UMKM Perlu Pendampingan Tingkatkan Literasi ‘Fintech’

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM), Hanung Harimba Rachman, mengatakan akses pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) ke perbankan masih sangat rendah. Sehingga perlu penambahan akses pembiayaan dengan peningkatan literasi keuangan bagi UMKM terhadap teknologi financial (fintech).

“Saat ini, UMKM yang mendapatkan pembiayaan perbankan itu baru sekitar 19,4 persen. Jadi ini masih sangat rendah, yang disebabkan oleh kurangnya literasi pembiayaan UMKM,” ungkap Hanung, pada webinar yang digelar INDEF bertajuk ‘Menatap Masa Depan Fintech dan UMKM 2021’, di Jakarta, Selasa (15/12/2020).

Menurutnya, Kemenkop UKM telah mendeteksi UMKM yang terdampak pandemi Covid-19 dari sisi supply dan demand. Tercatat masih banyak UMKM dapat bertahan, bahkan tetap tumbuh pesat di tengah badai Covid-19.

“UMKM yang bertahan itu yang melakukan inovasi dengan beradaptasi terhadap perubahan perilaku konsumen, dan masuk ekosistem digital,” jelasnya.

Lebih lanjut Hanung menyebut, survei dari world bank mencatat 42 persen dari UMKM Indonesia menggunakan sosial media atau digital platform dalam merespons pandemi Covid-19.

Survei Mckinsey Juni 2020 juga menunjukkan kenaikan penjualan e-commerce sebesar 26 persen, dan terdapat 3,1 juta transaksi per hari selama pandemi Covid-19. Selain itu, UMKM juga  mampu melakukan adaptasi dengan mengubah kategori produk.

“Sebanyak 40 persen dari UMKM telah mengubah kategori produksi menjadi home care, makanan dan kesehatan. Bahkan, dalam market ini pelaku UMKM telah menjual lebih dari 1 kategori,” imbuhnya.

Hanung optimis, perkembangan literasi keuangan dari fintech dapat terus ditingkatkan untuk membantu perkembangan UMKM. Apalagi, literasi keuangan digital Indonesia saat ini baru mencapai 35,5 persen.

“Meskipun baru 35,5 persen, tapi progresnya cukup baik. Fintech sangat dibutuhkan oleh pelaku UMKM dalam memudahkan mereka, khususnya yang tidak memiliki persyaratan cukup untuk mengakses pembiayaan perbankan dalam mengakses pembiayaan modal kerja,” jelas Hanung.

Untuk meningkatkan literasi keuangan terhadap fintech lending, menurutnya diperlukan pendampingan bagi pelaku UMKM dengan membangun kemitraan  offtaker, atau aggregator untuk membangun literasi tersebut.

“Karena seperti yang diketahui bersama, pandemi Covid-19 telah berdampak luas terhadap perekonomian dunia, tidak kecuali dengan negara Indonesia,” katanya.

Dan, berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik), ekonomi Indonesia di kuartal III 2020 kontraksi minus 3,4 persen. Bahkan, ancaman resesi tidak dapat terhindarkan lagi.

Namun demikian, menurutnya dengan asumsi risiko yang mempengaruhi outlook ke depan, dapat dikendalikan. Karena stimulus Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk UMKM yang diberikan pemerintah cukup efektif.

“Di tengah badai Covid-19 ini, kami optimis target pertumbuhan ekonomi nasional kembali ke angka 5 persen pada 2024 bisa tercapai,” pungkasnya.

Lihat juga...