UPT KPH Sikka Gandeng 3 Kelompok Tanam Bakau di Pesisir

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pegelola Hutan (UPT KPH) Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, menggandeng  tiga kelompok pencinta lingkungan dalam melakukan aksi penanaman bakau di beberapa wilayah pesisir pantai. Penanaman bakau dilakukan, mengingat dampak abrasi yang kian besar selain dari banyaknya bakau yang telah mati dan ditebang warga untuk berbagai kepentingan, sehingga perlu ada restorasi.

“Kami menggandeng 3 kelompok pencinta lingkungan yang telah ada dan berpengalaman menanam bakau,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis kesatuan pengelola Hutan (UPT KPH) Kabupaten Sikka, Benediktus Herry Siswadi, saat ditemui Cendana News di Kelurahan Kota Uneng, Kota Maumere, Selasa (15/12/2020).

Kepala Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelola Hutan (UPT KPH) Kabupaten Sikka, Benediktus Herry Siswadi, saat ditemui di Kelurahan Kota Uneng, Selasa (15/12/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Herry menyebutkan, penanaman bakau dilakukan di 3 wilayah melibatkan 3 kelompok, yakni Desa Kolisia, Kecamatan Magepanda untuk kawasan pesisir seluas 5 hektare dengan jumlah anakan sebanyak 5 ribu batang.

Ia menyebutkan, kegiatan penanaman dilakukan dengan menggandeng Kelompok Cinta Alam yang beranggotakan 15 orang, yang selama ini juga selalu melakukan penanaman bakau.

“Ada juga di Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok di pesisir pantai di Kota Maumere. Kami menggandeng Kelompok Poma Laut dengan anggota 15 orang, untuk melakukan penanaman menggunakan propagul di lahan seluas  5 hektare,” ucapnya.

Selain itu, kata Herry, juga dilakukan di Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda di lahan seluas 10 hektare, menggunakan  10 ribu anakan dengan menggandeng Kelompok Pantai Lestari yang beranggotakan 10 orang.

Disebutkannya, kelompok ini dikoordinir oleh anak almarhum Baba Akong, yang meraih Kalpataru karena menghutankan pesisir pantai di Reroroja dengan menanam puluhan jenis bakau.

“Penanaman bakau ini merupakan program dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), untuk memberdayakan masyarakat yang terkena dampak pandemi Covid-19,” terangnya.

Herry mengatakan, dengan melibatkan masyarakat ini, diharapkan dapat meningkatkan ekonomi mereka serta mengajak masyarakat pesisir untuk peduli terhadap kelestarian ekosistem pesisir.

Ditambahkannya, semua dana ditransfer langsung ke rekening kelompok, sehingga pihaknya hanya memfasilitasi dan mengkoordinir kegiatan yang dilaksanakan tersebut.

“Kita berharap, masyarakat pesisir bisa mendapatkan manfaat dari penanaman bakau ini. Maumere pernah memiliki pengalaman terjadinya tsunami pada 1992, sehingga bakau diharapkan bisa membuat warga terlindung dari terjangan tsunami,” ucapnya.

Sementara itu, Haryanto, salah seorang warga Kelurahan Kota Uneng, mengatakan dahulu pesisir pantai di wilayah tersebut merupakan hutan bakau, namun selama 20 tahun terakhir berkurang drastis.

Ia menyesalkan adanya pembangunan rumah yang terus terjadi hingga ke pesisir pantai, membuat hutan bakau berkurang akibat ditebang warga sehingga daerah ini kerap terjadi banjir rob.

“Dulu bakau sangat lebat, namun sudah banyak berkurang karena adanya pembangunan rumah yang masif tanpa ada kontrol dari pemerintah, sehingga bakau pun ditebang,” sesalnya.

Lihat juga...