Usaha Pangkas Rambut di Bekasi Mulai Kembali Bergeliat

Editor: Makmun Hidayat

BEKASI — Bisnis barbershop atau pangkas rambut pria, di Kota Bekasi, Jawa Barat, mulai menggeliat di masa adaptasi tatanan hidup baru (ATHB) setelah sebelumnya ditutup terdampak pandemi Covid-19.

Masa pandemi Covid-19 cukup dirasakan oleh pelaku usaha pangkas rambut banyak masyarakat mengubah gaya hidup, tak terkecuali perencanaan anggaran rumah tangga setiap bulannya. Banyak warga yang rutin potong rambut membiarkan gambar gerak gondrong.

Hal tersebut menjadikan tak sedikit tempat barbershop di wilayah Kota Bekasi, gulung tikar, akibat pandemi Covid-19 di mana pekerja pulang kampung dan belum kembali atau pun sudah mendapat pekerjaan lainnya.

“Sejak penerapan ATHB di Kota Bekasi, pelanggan sudah kembali datang ke barbershop. Dulu, sepi, warga tidak ada yang berani. Terkadang kami, dipanggil untuk cukur di rumah,” kata Edward Setiawan, pengelola Barbershop Putra Bandung, di Jatiasih, kepada Cendana News, Selasa (8/12/2020).

Edward tengah memotong rambut pelanggan, di masa pandemi, tempat pangkas rambut tetap menggunakan APD saat bekerja, Selasa (8/12/2020). -Foto: M. Amin

Edward mengaku, saat warga di rumah saja itu sangat terasa, meski mereka tetap buka, tapi tidak satu pun pelanggan datang untuk mencukur rambut. Kondisi itu terjadi hingga akhir September 2020.

Menurutnya tidak sedikit, pekerja pangkas yang pulang kampung. Dan sekarang setelah penerapan ATHB, kebanyakan dari pekerja pangkas rambut, tidak kembali karena sudah mendapat pekerjaan baru di tempat lain.

“Sekarang sudah mulai geliat tapi, omzet tidak senormal saat sebelum pandemi. Karena sekolah juga masih libur, banyak orang tua membiarkan rambut anaknya panjang,”ujarnya.

Bahkan lanjut Edward, pernah ada anak rambutnya hingga sebahu, pada November lalu karena, tidak dipotong sejak awal pandemi Covid-19. Begitu pun orang tua banyak juga kerja di rumah, dan membiarkan rambut gondrong.

Banyak cerita di tempat pangkas rambut selama pandemi Covid-19. Bahkan tak jarang mereka dipanggil ke rumah, untuk pangkas, tapi harus mengenakan alat APD. Bahkan yang dicukur pun mengenakan APD lengkap. Namun demikian Edward mengaku memaklumi kekhawatiran pelanggannya.

Hal senada juga disampaikan Ujang, saat ini pelanggan sudah mulai berani ke tempat pangkas rambut meski tetap menggunakan masker. Bahkan terkadang ada pelanggan yang membawa disinfektan, menyemprot bangku sebelum diduduki.

Ujang mengaku sempat pulang kampung beberapa bulan. Ia kembali dari Garut ke Kota Bekasi, setelah perkantoran mulai diperbolehkan kerja lagi. Sekarang omzet paling 15 kepala/hari, dulu bisa mencapai 25.

Untuk tarif di Putra Bandung, anak-anak Rp20 ribu, dan dewasa Rp30 ribu. Selain cukur rambut di pangkas Bandung Putra banyak menjual aneka kerajinan dari Garut seperti minyak kemiri dan lainnya.

Lihat juga...