Warga Gelar Ritual Adat Dekat Puncak Gunung Ile Lewotolok

Editor: Makmun Hidayat

LEWOLEBA — Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PMVBG) melalui Pos Pemantau Gunung Api Ile Lewotolok di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata telah mengeluarkan peringatan terkait status siaga level 3.

Meski dalam peringatan tersebut warga diminta untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 4 kilometer dari puncak kawah, masyarakat masih menggelar ritual adat di dekat puncak gunung.

“Masih beberapa warga yang ada di kampung bahkan usai erupsi besar Minggu (29/11/2020), warga masih menggelar ritual adat di lereng gunung,” kata Benediktus Bedil, Koordinator Posko Barakat, Kelurahan Lewoleba Timur, Kota Lewoleba, saat dihubungi Cendana News, Rabu (9/12/2020).

Ketua Posko Barakat, Kelurahan Lewoleba Timur, Kota Lewoleba, Benediktus Bedil saat dihubungi, Rabu (9/12/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Ben sapaannya mengatakan, hampir semua suku di semua desa yang ada di kaki Gunung Ile Lewotolok selalu menggelar ritual adat ketika terjadi erupsi gunung api ini.

Menurutnya, warga memberi sesajen kepada alam dan leluhur dan memohon agar tidak terjadi letusan dan meminta maaf bila ada kesalahan yang diperbuat oleh warga atau wisatawan yang mendaki gunung.

“Sebagai masyarakat yang berpegang teguh pada adat dan budaya warga meyakini dengan menggelar ritual adat maka alam dan leluhur akan melindungi mereka dan tidak akan mencelakai mereka,” ucapnya.

Kepala Desa Waimatan, Kecamatan Ile Ape Timur, Onesimus Sili Betekeneng saat ditanyai mengakui, ada 7 orang tua yang masih bertahan di desanya dan mereka tetap menggelar ritual adat.

Onesimus menambahkan, penduduk Desa Waimatan berjumlah 400 jiwa lebih yang terdiri atas 113 Kepala Keluarga (KK) dan semua sudah mengungsi ke pos pengungsi yang disiapkan pemerintah sejak Minggu (29/11/2020).

“Sebelum mengungsi pun kami menggelar ritual adat agar leluhur melindungi dan manjaga kami selama kami mengungsi. Kami hanya mengungsi sementara dan tetap akan kembali ke kampung bila situasi dan kondisi kembali normal,” ucapnya.

Onesimus bahkan menyebutkan, pada Senin (30/11/2020) dirinya bersama tetua adat kembali ke desa dan mencari babi untuk membuat ritual adat kembali agar erupsi Gunung Api Ile Lewotolok segera reda.

Ia mengtakan, mungkin akibat dampak erupsi sehingga banyak ikan yang berada di pesisir pantai sehingga mudah ditangkap namun tidak ada warga yang beraktivitas di laut karena takut terjadi erupsi.

“Setelah selesai membuat ritual adat kami semua merasa lega dan seperti ada kekuatan.Kami yakin Gunung Ile Lewotolok tidak akan menyusahkan kami dan erupsi segera berakhir,” ungkapnya.

Staf PVMBG Bandung, Hendra Gunawan saat ditanyai ketika berada di Lewoleba menyebutkan pihaknya terus melakukan monitoring dan berdasarkan data dilakukan analisa dan evaluasi.

Hendra mengatakan, berdasarkan hasil analisa dan evaluasi  lakukan analisa baru dikeluarkan rekomendasi apakah status Gunung Api Ile Lewotolok perlu dinaikkan atau diturunkan.

“Evaluasi ini diperlukan agar dikeluarkan rekomendasi sebagai acuan untuk bergerak seperti desa-desa mana saja yang warganya perlu diungsikan dan desa mana saja yang aman dari erupsi,” ungkapnya.

Hendra menyebutkan, sehari minimal 5 kali erupsi dengan ketinggian sekitar 1.000 sampai 2.000 meter dan yang terbesar 4 ribu meter terjadi pada hari Minggu )29/11/2020) pagi.

“Gunung api ini sudah lama tidak erupsi dan kegempaan vulkaniknya masih banyak sehingga kita lakukan monitoring secara ketat dan analisa serta evaluasi datanya.Saat ini statusnya masih siaga dan jaraknya 4 kilometer dari puncak kawah harus steril,” ungkapnya.

Lihat juga...