Warga Sikka Diminta Patuhi Prokes Saat Perayaan Natal

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Sikka, NTT, Petrus Herlemus, kembali menegaskan pesan Uskup Maumere agar pelaksanaan Misa Natal menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

“Hari ini ada rapat di SMK St. Thomas terkait perayaan Natal dan Tahun Baru. Sebelumnya juga telah dilaksanakan di Polres Sikka,” sebut Petrus Herlemus saat ditemui Cendana News di Kantor Dinas Kesehatan, Kota Maumere, Jumat (18/12/2020).

Juru Bicara Gugus Tugas  Covid-19 Sikka, Petrus Herlemus saat ditemui di Kantor Dinas Kesehatan di Kota Maumere, Jumat (18/12/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Petrus mengatakan, kapasitas rumah ibadah juga harus diisi setengahnya sesuai dengan imbauan dari Kementerian Agama dan gereja pun telah menerapkannya dalam perayaan Misa setiap hari Sabtu dan Minggu di gereja.

“Kita tetap memantau dan menjaga agar perayaan Natal dan Tahun Baru harus tetap dilaksanakan tetapi dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat. Jangan sampai terjadi lonjakan kasus terlebih transmisi lokal padahal kita baru memasuki zona hijau,” ujarnya.

Sementara itu, Uskup Maumere Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, Pr telah meminta agar para pastor paroki, pimpinan biara atau komunitas serta umat Katolik di wilayah Keuskupan Maumere agar mematuhi semua penerapan protokol kesehatan selama perayaan Natal 2020.

Penerapan tersebut kata Uskup Edwaldus, sesuai dengan yang telah diatur dalam Pedoman Umum Protokoler Pelayanan Ibadat dan Sakramen Dalam Masa New Normal di Wilayah Keuskupan Maumere.

“Saya telah meminta agar setiap paroki melakukan persiapan seperti memastikan adanya petugas yang melakukan pengawasan penerapan prokes di area gereja. Juga harus melakukan pembersihan dan disinfektan secara berkala di area gereja,” pintanya.

Uskup Edwaldus juga mengatakan, harus disediakan tempat cuci tangan dan hand sanitizer di pintu masuk dan di samping altar dengan jumlah disesuaikan jumlah umat yang menghadiri perayaan misa.

Selain itu pintanya harus ada alat pengecekan suhu tubuh atau thermo gun di pintu masuk dan semua umat yang datang ke gereja harus dites suhu tubuhnya serta kotak kolekte disiapkan di pintu masuk gereja.

“Membuat jarak di bangku tempat duduk dengan memberikan tanda silang dengan jarak 1,5 meter sampai 2 meter. Juga harus dipasang poster atau pamflet mengenai imbauan penerapan prokes di lingkungan gereja,” ucapnya.

Uskup Edwaldus juga meminta agar bayi, anak-anak yang belum komuni serta lansia terutama yang memiliki riwayat penyakit kronis agar tidak mengikuti misa di gereja.

Semua umat dan petugas yang hadir dimintanya wajib menggunakan masker sejak keluar dari rumah, selama berlangsungnya misa hingga kembali ke rumah serta wajib mencuci tangan dengan sabun pada air mengalir selama 20 detik di tempat yang sudah disediakan.

“Umat bisa membawa hand sanitizer sendiri dan antrean masuk dan keluar gereja dipastikan tetap menjaga jarak antara umat 1,5 meter sampai 2 meter antara satu dengan lainnya. Jangan ada kerumunan dan biasakan budaya antre, dan langsung meninggalkan gereja setelah ibadat selesai,” tegasnya.

Lihat juga...