21 Tahun Honorer, Guru di Sikka ini Lulus P3K

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Seorang guru honor di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sudah 21 tahun menjadi guru honor komite hingga honor daerah, akhirnya lulus menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) dan dilantik Senin (25/1/2021).

Guru di SMP Santa Maria Gunung Karmel di Wolofeo, Kecamatan Tanawawo tersebut, bersama seorang guru lainnya yang juga sudah 13 tahun mengabdi dan menjadi guru honor, akhirnya bisa bernapas lega.

“Ini merupakan suatu bonus, penghargaan bagi kami yang sudah berumur lebih dari 50 tahun, dan sudah puluhan tahun menjadi guru,” kata Alexander Oematan, SH, Kepala Sekolah SMPK Santa Maria Gunung Karmel, Kecamatan Tanawawo, Kabupaten Sikka, NTT, saat dihubungi, Kamis (28/1/2021).

Alexander mengaku, selain mengajar dan menjadi kepala sekolah di SMP sejak tahun 2003, dirinya juga mengajar di sebuah SD Negeri selama 10 tahun, kemudian dimutasikan kembali ke sekolah awal tahun 2017.

Dia mengaku senang dimutasi kembali ke SMPK Santa Maria Gunung Karmel, karena sekolah tersebut merupakan salah satu sekolah yang dirinya ikut merintis pendiriannya.

“Waktu tes tahun 2013 saya tidak lulus, karena hanya diterima guru SD di sekolah negeri saja. Kami ada 35 orang dialihkan ke P3K dan dari 5 orang yang ikut tes, hanya 2 orang yang lulus,” terangnya.

Guru mata pelajaran PKN ini mengaku, awalnya mendapatkan gaji dari honor komite dengan jumlah yang sangat kecil dan sejak tahun 2008 mendapat gaji dari honor daerah.

Alexander mengakui, pendapatan yang diterima berasal dari honor daerah terus mengalami kenaikan, dimana hingga bulan Desember 2020 dirinya menerima honor Rp1,7 juta per bulannya.

“Saya bahagia bisa diangkat jadi P3K. Tapi kalau melihat pendapatan sama saja. Saya di sekolah juga mendapatkan tunjangan sertifikasi Rp1,5 juta dipotong pajak 5 persen, sejak tahun 2010,” terangnya.

Alexander mengaku kecewa, sebab sejak awal waktu tes disampaikan akan ditempatkan di sekolah asal, tetapi dalam perjalanan setelah lulus P3K, dia ditempatkan di sebuah sekolah negeri, SMPN 2 Paga.

Dikatakannya, jarak sekolah tersebut sejauh 15 kilometer dari rumahnya, sementara di sekolah lama dirinya sudah mengabdi puluhan tahun, dan untuk sementara juga menjabat sebagai kepala sekolah.

“Saya memang mau mengundurkan diri, tetapi karena ada dorongan dari teman-teman guru, saya tetap mengikuti tes P3K dan lulus. Saya harus berkonsultasi lagi dengan Yayasan Sanpukat selaku pemilik sekolah tempat saya mengabdi selama ini, dan juga dinas PKO Sikka,” ucapnya.

Sementara itu, Maria Yuliati, salah seorang guru honor di Kecamatan Waigete mengakui, awal mengajar dirinya hanya digaji Rp85 ribu. Sementara tahun kedua gaji yang diterima dirinya bersama rekan guru lainnya naik menjadi Rp125 ribu sebulan.

Maria sesalkan, para guru honor komite yang sudah mengabdi di sekolah dan saat tes CPNS tidak lulus, sementara calon guru yang tidak pernah mengajar lulus, maka hal itu tentu membuat kecewa.

“Kasihan kalau banyak teman guru yang sudah lama mengabdi dan juga menjadi guru honor komite di sekolah-sekolah pedalaman bergaji minim. Saat tes CPNS juga tidak lulus,” ungkapnya.

Lihat juga...