Akumindo: 50 Persen UMKM Tutup Terdampak Covid-19

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Pandemi Covid-19 telah memperburuk kinerja Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Indonesia, terbukti 50 persen atau sekitar 30 jutaan unit usaha tutup. Dampaknya UMKM hanya mampu berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 37,3 persen di 2020.

Ketua Umum Asosiasi Usaha Mikro Kecil Menengah Indonesia (Akumindo), Muhammad Ikhsan Ingratubun mengatakan, 2020 merupakan tahun terparah yang menekan kinerja UMKM dibandingkan dua tahun sebelumnya.

Menurunnya kinerja UMKM tidak lepas dari dampak pandemi Covid-19 yang menekan kegiatan ekonomi di berbagai sektor.

“Yang paling terdampak adalah UMKM. Berbagai stimulus telah disalurkan, tapi apa yang salah, UMKM masih tetap terpuruk,” ujar Ikhsan, pada webinar pemulihan UMKM di Jakarta, Selasa (26/1/2021).

Dia menjelaskan, data Bank Indonesia (BI) 2018 mencatat nilai transaksi UMKM mencapai Rp8.573,9 triliun dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 57,8 persen. Jumlah UMKM mencapai 60 juta unit usaha dan menyerap lapangan kerja sebanyak 91 persen.

2019, nilai transaksinya mencapai Rp 8.400 triliun dengan sumbangan terhadap PDB mencapai 60,3 persen dengan jumlah 63 juta unit usaha dan mampu menyediakan lapangan kerja sebanyak 96 persen.

Terkait kinerja UMKM, tahun 2020, hasil kajian Akumindo mencatat, transaksi UMKM hanya di angka Rp 4.235 triliun dengan kontribusi terhadap PDB hanya 37,3 persen dengan jumlah unit UMKM mencapai 34 juta unit usaha. Juga hanya mampu menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak 73 persen.

“Inilah potret kajian kami di 2020, UMKM hanya memberikan kontribusi terhadap PDB sebesar 37,3 persen. Jadi tidak heran kalau pertumbuhan ekonomi nasional tumbuh negatif di 2020,” ujar Ikhsan.

Pertumbuhan ekonomi negatif, tercermin pada kinerja triwulan II minus 5,32 persen dan triwulan III minus 3,49 persen. “Di triwulan IV 2020, minusnya lebih dalam di angka 3,90 persen,” ujarnya.

Dampak lanjutan dari pandemi Covid-19 selama tahun 2020 terhadap kinerja UMKM. Yakni terjadi penutupan usaha kurang lebih sebanyak 50 persen.

Sehingga menurutnya, kalau data BI tahun 2019, sebanyak 63 juta unit usaha. Maka tahun 2020, terkolaborasi dengan Akumindo dari Kadin (Kamar Dagang Industri Indonesia) dan Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia), itu ada kurang lebih 50 persen atau sekitar 30 jutaan unit usaha yang tutup.

“Apalagi dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kadang ditarik rem, kadang dibuka. Ini mengakibatkan ketidakstabilan daripada UMKM,” ujarnya.

Dampak kedua yaitu, sebanyak 7 juta karyawan kehilangan pekerjaan. Padahal kata Ikhsan, Agustus 2020, UMKM sudah mulai bangkit karena kebijakan PSBB mulai ditarik.

Dampak ketiga, sebut dia, adalah penurunan omzet hingga 80-85 persen. Ini dikarenakan daya beli masyarakat yang menurun, karena tidak mempunyai pekerjaan.

Ikhsan menegaskan, bahwa kebijakan pemerintah menjadi kunci yang utama untuk memulihkan UMKM. Seperti adanya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 11 Tahun 2020 membantu pelaku UMKM.

“Kami harapkan stimulus kepada pelaku UMKM dilanjutkan hingga akhir 2021, seperti relaksasi dan restrukturisasi kredit,” tutupnya.

Lihat juga...