Angka Covid-19 Meningkat, Pemkot Semarang Fungsikan RS Darurat

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, Abdul Hakam saat dihubungi di Semarang, Kamis (7/1/2021). Foto Arixc Ardana

SEMARANG — Angka penyebaran covid-19 di Kota Semarang terus mengalami kenaikan. Berdasarkan data siagacorona.semarangkota.go.id, per Kamis (7/1/2021) pukul 19.00 WIB, jumlah pasien positif mencapai 982 orang. Angka tersebut terdiri dari 704 warga Kota Semarang dan 278 orang dari luar daerah.

“Kita melihat selama dua pekan terakhir ini, angka covid-19 di Kota Semarang masih tinggi. Hal tersebut mendorong, kita untuk meningkatkan sarana prasarana dalam penanganan, baik untuk mereka yang bergejala dan membutuhkan perawatan, ataupun orang tanpa gejala (OTG),” papar Walikota Semarang, Hendrar Prihadi di Balaikota Semarang, di sela paparan terkait penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), Kamis (7/1/2021).

Saat ini, penanganan pasien covid-19 di Kota Semarang dipusatkan di RSUD KRMT Wongsonegoro, yang merupakan rumah sakit daerah milik Pemkot Semarang. Selain itu, juga ada rumah dinas walikota Semarang, yang diubah fungsi sebagai tempat isolasi bagi OTG covid-19.

“Namun melihat perkembangan yang terjadi di lapangan, dengan peningkatan kasus di lapangan, kita putuskan untuk mengubah status tempat isolasi terpusat di rumah dinas, menjadi rumah sakit darurat untuk menangani pasien Covid-19 yang bergejala,” terangnya.

Rumdin tersebut akan mendukung ketersediaan kamar isolasi atau perawatan dari RSUD Wongsonegoro. Sementara, untuk isolasi OTG dari rumdin walikota, akan dipindahkan ke gedung Islamic Centre Semarang.

Sebelumnya, Pemkot Semarang juga sudah menggunakan gedung Diklat, yang saat ini dikelola oleh RSUD Wongsonegoro sebagai tempat isolasi pasien covid-19. Termasuk juga gedung Muria di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) milik Pemprov Jateng, juga sebagai tempat isolasi.

“Nantinya, pasien yang masuk dalam kategori OTG, atau mengalami gejala ringan akan ditempatkan di tempat isolasi baru tersebut. Ini kita lakukan untuk mengurangi jumlah pasien di rumdin walikota yang cukup tinggi. Turun naik angkanya di atas 100 orang,” tandasnya.

Masyarakat pun bisa mengakses, ketersediaan atau kapasitas ruang isolasi atau perawatan di setiap rumah sakit di Kota Semarang, melalui laman siagacorona.semarangkota.go.id.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, Abdul Hakam saat dihubungi memaparkan, untuk memenuhi kebutuhan tempat isolasi, pihaknya juga sudah mengoptimalkan 10 puskesmas rawat inap sebagai tempat transit , sebelum pasien dirawat.

“Kita juga sudah meminta rumah sakit, yang memiliki asrama untuk dapat dimanfaatkan sebagai tempat isolasi pasien yang kondisinya sudah stabil, sehingga ruangan yang digunakan sebelumnya bisa diisi oleh pasien baru,” terangnya.

Sejumlah rumah sakit yang sudah berkoordinasi terkait permintaan tersebut, di antaranya
RS Sultan Agung Semarang, RS Elisabeth, RS Panti Wilasa hingga RS Telogorejo Semarang.

Untuk menambah kapasitas isolasi, pihaknya juga sudah memanfaatkan gedung Muria di BPSDM Jateng sebagai tempat isolasi. “Kita pinjam pakai, sudah beroperasi sekitar sebulan, Ada sebanyak 40 kamar yang kami kelola. Mudah-mudahan dengan berbagai upaya ini, ketersediaan ruang isolasi dan perawatan bagi pasien covid-19 di Kota Semarang, dapat mencukupi,” tandasnya.

Lihat juga...