Atraksi Budaya Sikka Pikat Wisatawan Asing

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Atraksi budaya di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, sangat disukai wisatawan, dan banyak sanggar-sanggar budaya berkembang sehingga bisa menjadi nilai jual.

Wisatawan asing yang berkunjung ke Kabupaten Sikka, sangat tertarik dengan adat dan budaya Sikka yang masih ada, sehingga harus menjadi nilai jual utama untuk menarik wisatawan.

“Hampir semua wisatawan asing yang menginap di tempat saya sangat tertarik dengan berbagai atraksi budaya yang ada, dan ini yang membuat mereka senang datang ke Sikka,” kata Ignasius Kassar, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Sikka, saat dihubungi, Minggu (3/1/2021).

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Sikka, NTT, Ignasius Kassar, saat ditemui di tempat usahanya di Desa Watuling, Kota Maumere, Minggu (20/12/2020). -Dok: CD

Ignas, sapaannya, menyebutkan selain atraksi budaya yang disukai wisatawan, kesenian pun menjadi nilai jual dengan musik-musik kampung atau musik tradisionalnya.

Menurutnya, banyak sanggar-sanggar seni budaya selain menyuguhkan atraksi budaya juga menampilkan kesenian untuk memikat wisatawan, baik seni tari dan musik tradisionalnya.

“Wisatawan asing sangat suka sekali melihat atraksi seni budaya, apalagi mereka dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Ini yang menjadi nilai jual pariwisata di Sikka yang harus dikembangkan,” pintanya.

Ignas juga memaparkan, kesiapan sumber daya manusia (SDM) di bidang pariwisata baru mencapai 30 persen, sehingga harus terus dikembangkan ke depannya.

Ia mengatakan, untuk SDM di bidang restoran dan hotel  sudah mulai siap karena selama tiga terakhir sejak 2017 mulai digiatkan pelatihan dan pengembangan fasilitasnya.

“Pengembangan infrastruktur tiga tahun terakhir mulai bergeliat. Banyak investor mulai masuk ke sektor pariwisata dengan membuka hotel, restoran dan kafe,” terangnya.

Ignas menegaskan perlunya memperhatikan infrastruktur di bidang perhubungan dan telekomunikasi, di mana akses jalan ke destinasi wisata masih sulit serta jaringan internet pun belum terlalu bagus.

Sementara itu, Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Provinsi NTT, Agustinus Manua Bataona, meminta agar pemerintah perlu membangun kerja sama dengan pelaku wisata untuk membenahi SDM.

Menurut Agus, sapaannya, perlu adanya pelatihan-pelatihan yang dilakukan oleh pemerintah dengan menggandeng organisasi yang bergerak di sektor pariwisata terkait pelayanan kepada wisatawan.

“Bicara pariwisata, selain melakukan pembenahan fisik, maka penting peningkatan kapasitas para pelaku wisata. Ini penting, karena pariwisata identik dengan pelayanan kepada wisatawan,” terangnya.

Lihat juga...