Bank Sampah Kampung Sorosutan Tambah Penghasilan Warga

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Melalui bank sampah Sinar Lestari, warga kampung Sorosutan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, secara aktif dan konsisten melakukan pengelolaan sampah rumah tangga, guna menciptakan kondisi lingkungan yang lebih baik. 

Selain memilah dan menjualnya kepada pengepul, mereka juga telah mampu mengolah dan mendaur ulang sampah-sampah tersebut menjadi bahan bakar berupa bensin, solar hingga minyak tanah.

Sekretaris Bank Sampah Sinar Lestari RW 9 Sorosutan, Sugianti, mengatakan bank sampah Sinar Lestari mulai didirikan sejak 2013. Berawal dari keprihatinan warga melihat kondisi lingkungan kampung yang makin mengkhawtirkan.

Sekretaris Bank Sampah Sinar Lestari RW 9, Sorosutan, Umbulharjo Kota Yogyakarta, Sugianti. –Foto: Jatmika H Kusmargana

“Awalnya hanya beberapa orang saja yang mau bergabung. Namun setelah kita lakukan sosialisasi secara terus-menerus, kini sudah ada 218 warga dari 5 RT yang bergabung menjadi anggota bank sampah,” katanya, Rabu (27/1/2021).

Melakukan kegiatan pengumpulan sampah setiap dua minggu sekali, bank sampah Sinar Lestari mampu mengumpulkan berbagai macam jenis sampah hingga 200-300 kilogram setiap bulannya. Baik itu kertas, plastik, aluminium, besi, dan sebagainya.

“Setiap menjual sampah, seorang anggota bisa mendapatkan pemasukan hingga Rp200ribu. Bahkan yang benar-benar serius menabung sampah, dalam sebulan bisa mendapatkan penghasilan tambahan hingga Rp500 ribu,” katanya.

Sebenarnya, dikatakan bank sampah Sinar Lestari telah memiliki mesin daur ulang yang mampu mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar. Mesin senilai Rp30 juta tersebut merupakan bantuan dari salah seorang warga.

“Namun kita jarang melakukan kegiatan daur ulang, karena keterbatasan tenaga yang ada. Sebab proses daur ulang membutuhkan waktu cukup lama, yakni sampai 7-8 jam per 7 kilogram sampah,” katanya.

Selama melakukan aktivitas pengelolaan sampah, Sugianti menyebut banyak manfaat yang didapatkan warga. Selain bisa menambah penghasilan keluarga, juga mampu mengurangi, bahkan menghilangkan kegiatan pembakara sampah yang dapat mencemari udara.

“Yang jelas sejak adanya kegiatan ini, sudah tidak ada lagi warga yang membakar sampah. Sehingga tidak terjadi polusi udara. Volume residu sampah juga menjadi berkurang drastis, karena sebagian telah dikumpulkan di bank sampah untuk dijual dan diolah kembali,” pungkasnya.

Lihat juga...