Banyak Gabah Kopong, Produktivitas Panen Petani Turun Drastis

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

YOGYAKARTA — Kondisi cuaca yang kurang bersahabat sejak beberapa bulan terakhir ternyata berdampak pada penurunan produktivitas hasil panen sejumlah petani di wilayah Sleman, Yogyakarta.

Hal tersebut disebabkan karena gabah yang dihasilkan padi para petani diketahui mengalami ‘gabuk’ atau ‘kopong’. Sehingga mempengaruhi bobot capaian gabah kering panen (GKP) para petani.

Salah seorang petani asal dusun Ngijon Sendangarum Minggir Sleman, Suprihatun (55), mengaku mengalami penurunan hasil panen hingga mencapai 50 persen pada musim panen kali ini.

Menanam padi jenis mentik susu serta sri wulan di lahan seluas kurang lebih 1000 meter persegi, ia mengaku hanya mendapatkan panenan 3,5 kwintal GKP. Jika dikalkulasi sebanyak 3,5 ton per hektar.

Jumlah tersebut diketahui menurun drastis jika dibandingkan hasil panenan di musim sebelumnya. Yakni mencapai sekitar 5-6 kwintal GKP per 1000 meter persegi. Atau kisaran 5-6 ton per hektar.

“Kita menduga banyaknya gabah yang kopong ini disebabkan karena proses penyerbukan yang tidak maksimal akibat kondisi cuaca buruk. Sehingga banyak bulir padi yang tidak jadi (tidak dibuahi) sehingga menyebabkan gabah kopong atau tidak ada sisinya,” katanya Senin (11/01/2021).

Suprihatun menyebut kopong-nya gabah hasil panen petani seperti yang terjadi saat ini membuat harga jualnya menurun drastis. Jika normalnya gabah kering panen saat ini laku diual Rp4.000 per kilogram. Maka gabah yang kopong hanya dihargai kurang dari Rp3.000 per kilogramnya.

“Ini disebabkan karena banyak biji gabah yang warnanya kehitaman. Biji gabah seperti ini jika digiling akan menghasilkan biji beras yang juga kehitaman. Sehingga kurang disukai pedagang maupun konsumen,” katanya.

Agar gabah hasil panen petani tetap laku dijual, Suprihatin sendiri mengaku harus membuang atau memisahkan biji gabah kopong tersebut, dengan cara diayak manual. Hal inilah yang kemudian mengakibatkan penurunan bobot atau berat capaian hasil panen petani.

“Petani rugi. Karena biaya produksinya sudah habis banyak. Baik itu untuk biaya membeli pupuk, biaya mentraktor, biaya tenaga tanam maupun biaya tenaga saat memanen,” kesahnya.

Lihat juga...