Banyak Wali Murid di Bekasi Pilih LKS Dibanding Online

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

BEKASI — Wali Murid di wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat, lebih banyak memilih sistem tugas melalui Lembar Kerja Siswa (LKS) ketimbang pembelajaran jarak jauh (PJJ). Fasilitas daring jadi alasan utamanya.

Chandra Gunawan, Guru SD di Kota Bekasi, mengaku kendala fasilitas PJJ jadi keluhan wali murid. Banyak wali murid memilih sistem tugas LKS, Kamis (14/1/2021). Foto: Muhammad Amin

Meskipun ada subsidi bantuan kouta untuk guru dan siswa, tapi itu tidak memadai. Jika dikalkulasikan dalam dua hari pengeluaran untuk kuota bisa mencapai Rp30 ribu. Hal lainnya kendala dengan fasilitas hape banyak orang tua tidak memiliki hape memadai.

“Banyak Wali Murid yang datang ke sekolah meminta diberi tugas melalui LKS saja. Alasannya, keterbatasan ekonomi membeli kouta internet, fasilitas handpone dan lainnya tidak memadai,” ungkap Chandra, guru salah satu sekolah dasar di wilayah Kota Bekasi, dikonfirmasi Cendana News, Kamis (14/1/2021).

Diakui Chandra bahwa banyak guru juga mengalami kesulitan terkait kuota. Sehingga banyak sekolah juga melalui komite kelas ikut mengarahkan untuk mengkoordinir lagi soal LKS karena tentunya kekurangan saat ini.

Ozi, salah satu guru di sekolah swasta wilayah Bekasi, juga mengakui hal senada. Apalagi sekolah tempatnya mengajar adalah sekolah khusus dhuafa, orang tidak mampu.

“Sekolah tempat saya mengajar, tidak ada aktifitas sama sekali. Mau bagaimana lagi, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka belum diizinkan, siswanya kebanyakan tidak mampu, kouta dari mana hape aja mereka tidak punya,”papar Ozi.

Menurutnya, sekolah dasar negeri di Kota Bekasi, sudah melakukan berbagai upaya selama penerapan PJJ. Tapi kondisi wali murid sendiri yang tidak memungkinkan. Sehingga banyak sekolah pasrah.

“Ada cara memberi tugas, misalkan dalam satu rombel ada 40 siswa. Dari jumlah itu yang mengembalikan mengumpulkan yang diberikan sekolah hanya 16 siswa atau lebih sedikit, artinya tetap tidak ideal,”papar Ozi.

Terkadang ada orang tua yang kerjanya serabutan dan memiliki satu handpone, sementara anaknya sekolah ada tiga orang. Sampai saat ini belum ada terobosan dalam menyikapi belajar jarak jauh yang bermutu.

“Mau diapakan lagi, kondisi begini, tidak ada yang di salahkan. Sekolah itu memang idealnya tatap muka. Kecuali ekonomi semua wali murid sudah baik dan fasilitas PJJ memadai,” tukasnya.

Rohani ibu rumah tangga di Jatimekar, mengakui anaknya selama pandemi tidak pernah belajar dan mengerjakan soal sama sekali yang diberikan sekolah. Dia mengaku hanya pasrah, jika pun anaknya tidak naik kelas tidak dipersoalkan.

“Saya sudah anggap anak saya libur setahun, sekarang dia kelas dua SD. Baca saja masih belum fasih, apa yang harus diajarkan, ya sudah tidak naik kelas pun tak soal. Saya sudah anggap libur setahun,” pungkasnya.

Lihat juga...