Bappenas Optimis Emisi Bisa Turun Hingga 126 Juta Ton

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Di samping krisis pandemi Covid-19, Indonesia juga tengah dihadapkan oleh persoalan serius terkait perubahan iklim yang dampaknya sudah dirasakan bertahun-tahun lalu dan dapat mengancam keselamatan manusia.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Suharso Monoarfa menilai, pendekatan business as usual (biasa-biasa saja) kini tidak lagi relevan untuk menjawab tantangan permasalahan ekonomi dan lingkungan secara bersamaan, terlebih setelah mengalami disrupsi multisektor akibat pandemi.

“Sekarang ini kita mulai mengadopsi konsep ekonomi sirkular sebagai salah satu upaya mendukung strategi ekonomi hijau dan pembangunan rendah karbon. Ekonomi Hijau ditetapkan sebagai salah satu game changer dari enam strategi jangka menengah-panjang menuju transformasi ekonomi,” ujar Suharso dalam keterangan tertulis yang diterima Cendana News, Rabu (27/1/2021).

Suharso menjelaskan implementasi Ekonomi Sirkular diharapkan dapat menjadi salah satu kebijakan strategis dan terobosan untuk membangun kembali Indonesia yang lebih tangguh pasca Covid-19, melalui penciptaan lapangan pekerjaan hijau (green jobs) dan peningkatan efisiensi proses dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya.

Suharso pun menegaskan, bahwa agenda Ekonomi Sirkular menjadi bagian penting dari percepatan pemulihan ekonomi Indonesia tahun ini. Untuk mengawali langkah besar implementasi Ekonomi Sirkular di Indonesia, Bappenas bekerja sama dengan Pemerintah Denmark dan UNDP Indonesia.

“Berdasarkan hasil studi kami, penerapan Ekonomi Sirkular di lima sektor berpotensi menghasilkan tambahan PDB secara keseluruhan pada kisaran Rp593 triliun sampai dengan Rp642 triliun, penciptaan total lapangan pekerjaan baru mencapai 4,4 juta sampai tahun 2030, dan penurunan emisi karbon dioksida (CO2) mencapai 126 juta ton pada tahun 2030,” paparnya.

Kepala Perwakilan UNDP Indonesia, Norimasa Shimomura menuturkan hal serupa. Menurutnya, Indonesia dapat memperoleh manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan yang sangat besar dari penerapan Ekonomi Sirkular.

“Model ekonomi sirkuler memungkinkan kita mengurangi konsumsi bahan, sampah, dan emisi dan pada saat yang sama mempertahankan pertumbuhan dan menciptakan lapangan pekerjaan,” tukasnya.

Dengan demikian, lanjut Norimasa, model ini mampu menjawab tantangan perubahan iklim dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama perempuan yang rentan, warga lansia, anak-anak, dan masyarakat disabilitas, yang sesungguhnya mampu berperan aktif di komunitas.

“Semoga langkah ini berjalan sesuai harapan, sehingga hasilnya bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia dan bahkan dunia,” pungkas Norimasa.

Lihat juga...