Bisnis Ikan Segar Warga Pesisir Lempasing Bandar Lampung, Prospektif

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Masa pandemi Covid-19 sejumlah prospek bisnis atau peluang usaha jadi pilihan bagi warga. Bisnis ikan segar hasil tangkapan nelayan salah satunya ditekuni sebagian besar warga Lempasing. Wilayah pesisir di Kecamatan Teluk Betung Barat, Bandar Lampung itu berada di dekat pelabuhan perikanan. Sodikin, pedagang ikan segar menekuni usaha tersebut lima tahun silam.

Sodikin menyebut, bisnis ikan segar makin prospektif karena warga enggan bepergian. Sebagai gantinya pedagang melakukan kegiatan memasok ikan ke sejumlah perumahan warga.

Ikan jenis blue marlin yang kerap dijadikan bahan kuliner dipotong oleh Sodikin, salah satu pelele atau pedagang ikan keliling di pelabuhan perikanan Lempasing, Teluk Betung Barat, Bandar Lampung, Selasa (19/1/2021) – Foto: Henk Widi

Sejak pagi ia telah datang ke pelabuhan perikanan Lempasing di Jalan RE. Martadinata. Ikan salem, blue marlin, tongkol, kembung serta berbagai jenis ikan dibeli dari nelayan. Sebagian ikan diperoleh dari penampung untuk dijual kembali.

Memiliki pelanggan tetap warga, pemilik usaha kuliner, Sodikin menyebut, bisnis ikan segar masih eksis. Bermodalkan uang per hari rata-rata Rp1 juta ia akan berkeliling menawarkan ikan laut.

Memakai styrofoam dan boks plastik khusus yang diberi es, ikan akan tetap dalam kondisi segar. Selain dirinya puluhan warga pesisir Lempasing menjadikan prospek bisnis ikan segar sebagai sumber penghasilan.

“Pedagang ikan keliling atau dikenal pelele masih jadi prospek usaha yang mudah dijalankan, asalkan ditekuni. Melimpahnya ikan hasil tangkapan nelayan bisa dijual dengan keuntungan menjanjikan, terlebih saat masa pandemi Covid-19 sulit memperoleh pekerjaan,” terang Sodikin saat ditemui Cendana News, Selasa (19/1/2021).

Sodikin bilang, modal awal yang harus dimiliki berupa motor, rombong kayu atau besi untuk meletakkan boks ikan. Relasi dengan sejumlah bos ikan yang memasok berbagai ikan laut menjadi hal paling penting.

Bermodalkan kepercayaan ia kerap menjualkan ikan milik bos dengan standar harga pokok. Selisih penjualan menjadi keuntungan baginya setelah modal pokok dikembalikan pada bos ikan. Ia mengaku masih bisa mengantongi untung ratusan ribu selama sehari.

Kepercayaan dengan bos ikan juga dilakukan saat ia membeli ikan separuh harga sebelum dijual. Usai penjualan dengan berkeliling ke perumahan warga selama sehari ia akan kembali untuk melunasi pembelian ikan.

Kearifan lokal dalam bisnis jual beli ikan menjadi sumber kehidupan ekonomi masyarakat pesisir. Saling percaya dan membantu warga untuk memiliki usaha menjadi pemicu bisnis jual beli ikan segar.

“Bos ikan terbantu proses distribusi hingga ke konsumen sehingga stok ikan cepat terjual perputaran uang pun lebih cepat,” beber Solikin.

Pedagang bernama Jumadi menyebut, berangkat sejak pagi untuk mendapat ikan segar. Ia memilih berjualan udang, cumi-cumi dan teri dengan motor yang dilengkapi drum berisi butiran es batu.

Spesifikasi penjualan ikan sebutnya jadi salah satu cara agar pelaku usaha tidak saling berbenturan. Sebagian pedagang memilih hanya menjual ikan jenis tertentu berbeda dengan pedagang lain.

Jumadi yang menjual udang,teri, kerang mengemasnya dalam ukuran setengah kilogram. Harga dipatok mulai Rp20.000 hingga Rp30.000 per kilogram. Usai melakukan penimbangan dan pengemasan ia akan berkeliling ke sejumlah pemukiman warga. Sehari ia bisa membawa sebanyak 60 hingga 80 kilogram udang, teri dan kerang.

Proses penimbangan udang laut dilakukan oleh Jumadi, pedagang ikan keliling di Lempasing, Teluk Betung Barat, Bandar Lampung sebagai pekerjaan utama memanfaatkan peluang melimpahnya hasil tangkapan nelayan, Selasa (19/1/2021) – Foto: Henk Widi

“Setiap konsumen memiliki selera yang berbeda, rata-rata keuntungan dari penjualan mencapai Rp5.000 hingga Rp7.000 per kilogram,” bebernya.

Meski pedagang ikan cukup banyak, Jumadi mengaku, rute atau trayek penjualan akan berbeda. Puluhan pedagang ikan laut segar akan menjajakan ikan hingga ke Hanura Kabupaten Pesawaran, Teluk Betung Timur dan wilayah Tanjung Karang sehingga tidak akan terjadi persaingan usaha. Usaha yang ditekuni selama puluhan tahun sebutnya menjadi mata pencaharian menghidupi keluarga.

Nursanti, salah satu pengepul atau bos ikan menyebut menampung ikan hasil tangkapan nelayan. Memiliki modal lebih besar ia akan membeli ikan jenis tengkurungan, kurisi, kacang, tuna dan berbagai jenis ikan lain.

Sistem pemberian modal kepada nelayan penangkap ikan kerap diberikan kepada operator dan bidak atau kru kapal. Hasil tangkapan harus dijual kepadanya.

Perputaran uang modal yang dipakai untuk bahan bakar, operasional akan terbayar saat ikan terjual. Sekali melaut ia mengeluarkan modal hingga Rp5 juta.

Hasil tangkapan ikan nelayan dengan perahu kasko dan bagan congkel yang diberi modal rata-rata mencapai 1 ton. Ikan selanjutnya akan dijual kepada pedagang keliling, pemilik restoran dan pelaku usaha kuliner di sepanjang pesisir Lempasing.

“Perputaran uang sektor perikanan membantu perekonomian, membuka peluang usaha warga pesisir,” sebutnya.

Memasuki kondisi cuaca kurang bersahabat didominasi angin kencang, gelombang pasang hasil tangkapan berkurang. Namun Nursanti memastikan pedagang ikan keliling tetap mendapat pasokan.

Ia tetap memberikan jatah bagi pedagang keliling rata-rata 20 hingga 30 kilogram. Sebab sebagian pedagang memilih menjual berbagai jenis ikan agar bisa memenuhi kebutuhan pelanggan.

Lihat juga...