Budaya Literasi Berkontribusi Tingkatkan Kreativitas dan Inovasi Pendidikan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Bappenas, Subandi mengatakan, literasi berkontribusi positif dalam upaya menumbuhkan kreativitas dan inovasi.

Namun sayangnya kata dia, tingkat literasi di Indonesia masih rendah sehingga perlu ditingkatkan lagi.

“Literasi itu jangan dilihat dari angka melek aksara yang saat ini meningkat sudah di atas 95 persen. Tapi angka ini ternyata tidak cukup kalau dilihat dari kemampuan membaca saja, karena harus dilihat dari indikator capaian nilai,” ujar Subandi, pada diskusi virtual tentang pendidikan dan pustakawan di Jakarta, Kamis (21/1/2021).

Dia menjelaskan, tiga ukuran international yang mengukur kompomen penilaian yakni matematika, membaca dan sains. Tercatat kompetisi membaca mengalami peningkatan yang paling rendah, yakni dari 370,6 di tahun 2000, menjadi 371,0 pada tahun 2018.

Data ini menggambarkan bahwa anak-anak Indonesia selama 18 tahun itu kemampuan membacanya hanya meningkat 0,4 poin.

“Literasi itu akusisi dari pengetahuan. Jadi poin 0,4 persen itu menggambarkan si anak bisa membaca, tapi tidak paham dengan apa yang dibacanya. Ini tantangan besar kita kalau ingin semua penduduk diliterasi,” tukasnya.

Nilai dimensi budaya literasi secara nasional sebesar 55,0. Angka ini menurutnya, menunjukkan bahwa budaya literasi masyarakat di Indonesia masih tergolong rendah menuju sedang.

Di sebagian provinsi memiliki nilai dimensi budaya literasi di bawah rata-rata nasional. Sehingga dimensi tersebut tidak hanya menunjukkan rendahnya budaya literasi tetapi juga disparitas kemampuan literasi wilayah atau daerah.

“Jadi nilai dimensi 55,0 itu masih rendah dibandingkan komponen lain. Ini yang harus jadi perhatian kita, terutama pustakawan,” ujar Subandi.

Menurutnya, pustakawan harus mampu berpikir learning activities agar budaya literasi itu hidup. Dukungan pustakawan terhadap dunia pendidikan juga bukan sekedar pengadaan buku saja, tapi harus memberikan pelayanan untuk pelatihan dan kecakapan hidup berbasis literasi.

“Perpustakaan dan pustakawan menjadi peran penting sebagai pusat layanan literasi. Jadi ilmu yang diakusisi dari buku yang tersedia bisa disampaikan pada masyarakat,” imbuhnya.

Kepala Badan Kepegawaian Negara, Bima Harya Wibisana menambahkan, peningkatkan budaya literasi yang terpenting bukan kemampuan baca dan tulis, melainkan kompetensi dan pengetahuan.

“Literasi bukan hanya kemampuan baca dan nulis, tapi suatu akusisi dari pengetahuan bisa dimanfaatkan untuk banyak hal. Jadi kompetisi dan pengetahuan itulah suatu bentuk dari literasi yang kita inginkan,” jelasnya.

Apalagi menurutnya, saat ini perpustakaan digital menjadi solusi alternatif dalam upaya peningkatan pengetahuan. Sehingga pemanfaatan aplikasi layanan digital bisa dikorelasikan dengan media sosial (medsos).

“Dengan digitalisasi, eksplorasi pemanfaatan perpustakaan bisa maksimal,” ujarnya.

Menurutnya, pustakawan harus bisa berkreativitas dan inovasi menjadikan perpustakaan akses yang mudah bagi masyarakat.

Apalagi perpustakaan Indonesia kedepan erat dengan pembangunan sumber daya manusia (SDM). Bahkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)2020-2024 yang fokus untuk mengembangkan kualitas SDM.

“Salah satunya, melalui literasi dan pendidikan,” pungkas Bima.

Lihat juga...