Budidaya Lele Kian Diminati di Tengah Pandemi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Budidaya ikan lele kian digemari masyarakat Kota Semarang, terutama saat pandemi covid-19 seperti sekarang ini. Tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan protein keluarga, juga menjadi cara untuk mengisi waktu saat di rumah.

“Budidaya lele saya pilih, untuk mengisi kegiatan di rumah, di tengah keharusan untuk mengurangi aktivitas di luar, sebagai upaya pencegahan covid-19,” papar Ahmad Ripai, saat ditemui di rumahnya, kawasan Pucanggading Semarang, Senin (11/1/2020).

Memanfaatkan lahan pekarangan rumahnya yang masih cukup luas, dosen Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) tersebut, membuat kolam permanen. Ratusan ikan lele pun ditebarkan, dalam kolam ukuran 1,5 x 2 meter tersebut.

“Saya pilih lele, karena ikan jenis ini mudah perawatannya, bisa hidup dimana saja, mau di kolam, ember atau di drum bisa. Selain itu, dengan sumber air yang terbatas juga bisa hidup,” terangnya.

Tidak hanya itu, sebaran ikan juga cukup padat. Dalam kolam ukuran 1,5 x 2 meter dengan kedalaman sekitar 1,5 meter, bisa menampung hingga 200 ekor ikan lele.

“Selain itu, panennya juga relatif cepat, 3-4 bulan sudah bisa dipanen sejak pertama kali benih lele disebar. Soal pakan pun tidak pilih-pilih, mulai dari pelet, dedak, nasi sisa hingga sayuran bisa digunakan,” tambahnya.

Sejauh ini, Ripai mengaku lele-lele tersebut masih dikonsumsi sendiri, ataupun dibagikan ke sanak saudara hingga tetangga yang menginginkan. “Ikan lele ini sangat digemari masyarakat. Hampir semua orang penikmat ikan ini. Dagingnya empuk dengan sedikit duri. Nutrisinya juga tinggi,” terangnya.

Hal senada juga disampaikan Sugeng Irianto, warga Bukit Kencana Tembalang Semarang. Di tengah kesibukannya sebagai dosen di Politeknik Negeri Semarang (Polines), dirinya juga memilih mengisi waktu senggang dengan budidaya lele.

“Namun saya lebih memilih budidaya lele menggunakan ember, atau budikdamber (budidaya ikan dalam ember-red). Alasannya selain keterbatasan lahan, juga lebih praktis, mudah dan murah dibanding menggunakan kolam permanen,” terangnya.

Sugeng mengaku budikdamber tersebut sudah dilakoninya sekitar lima bulan terakhir, semenjak covid-19 mulai merebak. Pembatasan aktivitas di luar rumah, menjadi salah satu alasan kenapa dirinya memulai budidaya tersebut.

“Seiring dengan pembelajaran secara daring, termasuk di perguruan tinggi, waktu saya banyak dihabiskan di rumah. Untuk mengisi waktu setelah mengajar, saya memilih ternak lele. Ini juga bisa menjadi cara untuk melepas kejenuhan dan menyegarkan pikiran,” terangnya.

Di satu sisi, dirinya mengakui awal-awal budidaya lele dalam ember mengalami kesulitan. Terutama akibat jumlah ikan yang ditebar terlalu banyak, sehingga ikan-ikan tersebut ada yang mati.

“Setelah beberapa kali kegagalan, akhirnya sekarang sudah bisa memetik hasilnya. Panen lele bisa hampir setiap minggu, biasanya saya pilih yang ukurannya sudah cukup besar. Lele-lele ini untuk konsumsi keluarga, memenuhi kebutuhan protein,” terangnya.

Menurut Sugeng, dengan budidaya lele di rumah, ada beberapa keuntungan. Mulai dari mengisi waktu luang, mampu menyegarkan pikiran sehingga tidak jenuh dengan rutinitas, juga untuk mencukupi kebutuhan protein keluarga.

“Jika mau digeluti secara lebih serius, budidaya lele ini juga bisa memberikan manfaat secara ekonomi. Harga jualnya juga cukup tinggi, namun karena saya masih sebatas untuk keluarga sendiri, jadi belum dijual,” pungkasnya.

Lihat juga...