Budikdamber, Solusi Mudah Budi Daya Ikan Hemat Lahan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Bagi masyarakat perkotaan, khususnya mereka yang tinggal di perumahan, ketersediaan lahan saat ingin bercocok tanam atau budi daya ikan kerap jadi masalah tersendiri. Namun kini, dengan menggabungkan teknik aquaponik, budi daya ikan dalam ember (budikdamber) menjadi salah satu solusi.

Melalui sistem aquaponik dengan metode budikdamber, ketersediaan lahan sudah tidak menjadi kendala, sebab budi daya ikan bisa dilakukan dimana saja.

Termasuk di teras rumah. Tidak perlu modal besar untuk bisa menerapkan sistem aquaponik, bisa memanfaatkan ember atau wadah bekas yang ada di sekitar atau pun menggunakan ember khusus aquaponik budikdamber.

“Saya tertarik budi daya ikan melalui budikdamber, karena lebih mudah dibanding harus membuat kolam. Ember bisa langsung diisi air, kemudian ikan dimasukkan ke dalamnya. Awalnya pakai ember biasa, namun beralih ke ember khusus, karena sudah dilengkapi penutup ember yang berlubang untuk tempat sayuran,” terang Sugeng Irianto, pegiat budikdamber saat ditemui di rumahnya, Senin (25/1/2021).

Selain ikan lele, budikdamber juga bisa diterapkan pada jenis ikan lainnya, termasuk gurami, dengan memadukan sistem aquaponik, Senin (25/1/2021). Foto: Arixc Ardana

Warga perumahan Bukit Kencana Tembalang Semarang tersebut, kini sudah memiliki tiga ember yang digunakan untuk budi daya ikan tersebut.

“Saya beli ember budikdamber termasuk ikan lele, pelet buat pakan serta gelas plastik untuk budi daya sayur, seharga Rp 170 ribu. Ukuran ember 80 liter, mampu memuat sekitar 100 ekor bibit lele ukuran 3-5 centimeter,” terangnya.

Dengan ukuran bibit ikan lele 3-5 cm, dirinya mengaku bisa memanen hasil setelah tiga bulan pemeliharaan. Jika ingin lebih cepat, bibit lele yang disebar bisa dipilih ukuran yang lebih besar, 5-7 cm dengan masa panen sekitar 2 – 2,5 bulan.

Selain itu persentase angka kematian bibit lele juga lebih rendah, hanya sekitar 5-10 persen dibandingkan bibit ukuran 2-3 cm yang persentasenya bisa 10-20 persen.

“Untuk pakan menggunakan palet, bisa juga memakai sisa makanan seperti nasi dan lainnya, asal tidak berminyak. Namun biasanya, air cepat kotor, jadi setidaknya sebulan dua kali harus dikuras,” lanjut Sugeng.

Pemanfaatan bagian tutup ember untuk budi daya sayur, lanjut Sugeng, juga turut berpengaruh pada kualitas air untuk budi daya lele di dalam ember.

“Saya manfaatkan bagian atas atau tutup ember untuk budi daya sayur kangkung. Jadi, dalam siklusnya, sisa pakan yang dihasilkan ikan dalam bentuk feses yang terakumulasi dalam air, akan terserap oleh akar sayur kangkung sebagai bahan makanan. Tanaman menyuling air dalam ember, sehingga kualitas air lebih terjaga. Tidak cepat kotor,” tambah pria, yang juga dosen Politeknik Negeri Semarang (Polines) tersebut.

Dalam proses budikdamber, caranya pun mudah. Ember untuk budikdamber diisi air hingga empat per lima bagian, bibit ikan lele kemudian dimasukkan ke dalam ember.

Sementara, tanaman kangkung dimasukkan ke dalam gelas plastik bekas yang sudah dilubangi dan diberi media tanam arang kayu. Selanjutnya gelas plastik berisi kangkung, dimasukkan ke dalam tutup ember, hingga terendam.


Ember khusus budikdamber, memiliki penutup yang sudah dilubangi untuk meletakkan gelas plastik berisi sayuran. Dengan sistem aquaponik, bisa untuk budi daya ikan dan sayur, Senin (25/1/2021) –  Foto: Arixc Ardana

“Kalau airnya kurang tinggal ditambah, nanti ikan bisa dikasih makan pur atau makanan yang lain,” terangnya.
Sisa pakan yang dihasilkan ikan dalam bentuk feses nantinya akan terakumulasi di dalam air. Feses dengan kandungan nitrat dan amonia ini, bersifat toksin atau beracun bagi ikan, namun sebenarnya kaya nutrisi jika dijadikan sumber hara bagi tanaman.

“Dengan sistem aquaponik, pada saat yang bersamaan kandungan nitrat, yang ada di air dalam ember terserap oleh tanaman sebagai bahan makanan. Tanaman menyuling air dalam ember,” lanjutnya.

Dalam prosesnya, setelah 1,5 bulan pertama juga perlu dilakukan pemilahan bibit lele yang sudah ditebar. Ikan lele yang berukuran lebih besar, perlu dipisahkan dan ditaruh di ember tersendiri.

“Hal ini untuk mengurangi kepadatan dalam ember, sekaligus memberi peluang kepada ikan yang lebih kecil untuk bisa tumbuh besar,” terangnya.

Panen ikan lele, dari bibit sampai sepanjang sekitar 20 centimeter, sekitar tiga bulan. Sementara sayur kangkung bisa dipanen seminggu sekali.

“Satu kilogram berisi sekitar 8-9 ekor lele. Kalau dijual bisa laku sekitar Rp 20 ribu- Rp 25 ribu per kilogram. Jadi meski budikdamber, kalau mau ditekuni juga bisa menghasilkan,” lanjutnya.

Hal senada juga dilakukan Tya, yang juga warga Bukit Kencana Tembalang. Meski sama-sama menggunakan metode budikdamber, ibu tiga anak ini memilih memelihara ikan gurami di dalam ember.

“Sebelumnya sudah budikdamber lele, sudah ada tiga ember. Sekarang baru mencoba budikdamber ikan gurami. Masih coba-coba, namun mudah-mudahan berhasil karena sudah belajar dari budikdamber lele,” terangnya.

Dalam satu ember ukuran 80 liter, dirinya menyebar sebanyak 10 ekor ikan gurami ukuran 7-10 cm, yang dibeli Rp 500 per ekor. Seperti halnya budikdamber lele, dirinya juga menggunakan sistem aquaponik, dengan menambahkan budidaya sayur kangkung.

“Kalau diberi sayuran, air lebih bersih, ikan juga tidak mudah mati karena airnya tidak cepat kotor, sisa makanan juga terserap akar kangkung. Nantinya juga sayur-sayur ini bisa dipanen, jadi sekalian budidaya ikan dan sayur,” ungkapnya.

Dirinya pun berharap budikdamber ikan gurami yang dicobanya bisa berhasil. “Mudah-mudahan, tidak ada yang mati ikannya. Nanti bisa dipanen sekitar 3-4 bulan. Sejauh ini masih sekedar hobi, atau menghabiskan waktu luang, namun harapannya juga dapat memenuhi sendiri kebutuhan protein dan sayur keluarga,” pungkasnya.

Lihat juga...