Cuaca Lembab jadi Kendala Perajin Bambu di Kediri

KEDIRI – Perajin bambu di Desa Sumber Cangkring, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, terkendala cuaca di musim hujan, yang memicu tumbuhnya jamur pada berbagai hasil kerajinan tangan, sehingga mundur untuk dikirimkan ke pemesan.

“Kalau jamur selama lembab tetap ada. Namun, kami ada trik pengawetan, menggunakan bahan kimia. Ini di kulit (manusia) juga aman,” kata Mujiana, pemilik usaha kerajinan dari bambu asal Desa Sumber Cangkring, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jumat.

Ia mengatakan, usaha kerajinan bambu miliknya ini sudah ditekuni sejak lima tahun lalu. Dirinya mengatakan bahan baku bambu di daerahnya sangat berlimpah, sehingga ia mencoba membuat berbagai macam kerajinan.

Selain itu, di daerahnya perajin bambu juga banyak, sehingga ia turut belajar dari mereka. Dengan itu, ia kemudian mengkreasikan dan usahanya berkembang hingga kini.

“Saya berpikir bambu di desa saya sangat melimpah dan saya yakin dengan kerajinan, nilai jual bambu juga tinggi. Sebagian masyarakat di pertanian dan anak muda ada yang pengangguran. Saya berpikir bambu bisa menghasilkan nilai jual yang sangat bagus, terutama bagaimana menjadi kerajinan yang bagus,” kata dia.

Mujiana membuat berbagai macam kerajinan dari bahan baku bambu mulai dari tempat tidur, meja kursi, peralatan dapur seperti tudung saji, anyaman berbentuk pincuk, tempat tisu, bahkan sedotan dari bambu. Selain itu, ia juga bisa membuat gazebo serta berbagai macam kerajinan lainnya.

Untuk harga, dijualnya berdasarkan ukuran dan tingkat kesulitan. Untuk mebel misalnya, dijual antara Rp1,5 juta per unit hingga Rp3,5 juta per unit. Untuk gazebo yang model standar sekitar 1,5 meter dijualnya seharga Rp3,5 juta.

Ia mengaku selama ini bahan baku melimpah. Namun, ada beberapa yang memang diambilkan dari luar daerahnya, misalnya membuat gazebo. Untuk pembuatan gazebo diperlukan bambu betung ukuran besar, sehingga diambilkan dari Malang serta Tranggalek.

Ia juga menambahkan kerajinan bambu itu juga bisa awet dengan syarat ditaruh di tempat yang teduh terhindar dari lembab.

“Yang penting teduh, tidak kena air, panas, 10 tahun bisa,” kata dia.

Pria yang juga menyukai seni sejak kecil ini mengaku di masa pandemi COVID-19 juga berpengaruh pada usahanya. Jika dahulu ada banyak pegawai, kini hanya tinggal dua orang yang mengerjakan pesanan. Setiap bulan, sekitar Rp15 juta hingga Rp20 juta bisa didapatkan dari usahanya ini.

Ia berharap, pandemi ini bisa segera berlalu, sehingga usaha kecil seperti yang dikelolanya ini bisa lebih berkembang. Selain itu, dirinya juga sangat berharap dukungan dari pemerintah daerah agar usahanya ini juga bisa terus berjalan, sehingga para pekerja di tempatnya juga tetap bisa mendapatkan penghasilan. (Ant)

Lihat juga...