Dendam dari Liang Lahat

CERPEN ARIS KURNIAWAN

SETELAH susah payah bangkit dari kubur, melepas ikatan di kepala dan kaki, menyisihkan tanah dari tubuhnya, Sutaryono celingukan sebentar sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu berjalan keluar dari area pekuburan mencari warung nasi.

Rada sempoyongan seperti mabuk dia menyusuri jalan setapak yang bersisian dengan sungai kecil. Dia berjalan sambil menahan perutnya yang keroncongan.

Sesekali dia hampir jatuh terperosok ke dalam sungai, lalu berhenti sebentar untuk memeriksa dengkulnya yang ternyata baik-baik saja.

Hanya napasnya mulai terdengar ngos-ngosan. Matahari yang memancar terang dari arah depan menyilaukan matanya.

Tetapi rupanya tidak mudah menemukan desa terdekat dari area pekuburan. Setelah hampir setengah jam berjalan linglung barulah Sutaryono ketemu warung nasi di pojok persilangan yang sepi, tak ada orang lewat sama sekali.

Dia langsung masuk dan memesan sepiring nasi dengan lauk setengah baskom sayur asem, ikan asin, tempe, serta lalapan lengkap dengan sambal tentu saja.

“Sepertinya baru bangkit dari kubur, Kang?” kata ibu warung sambil melayani pesanan.

“Sudah jangan banyak cingcong. Minumnya dulu cepat sini, es teh manis. Haus banget anjir!” serunya seraya menghenyakkan bokong di bangku kayu.

Begitu pesanan datang dia langsung menyantapnya dengan buas tanpa cuci tangan lebih dulu. Ditendangnya ketika ada seekor kucing mendekat.

Tak berapa lama kemudian sebakul nasi telah amblas ke dalam perutnya. Dilanjut dengan dua pisang ambon ukuran jumbo yang ditelan hampir dengan kulit-kulitnya.

Sutaryono mengelus-elus perutnya yang kini terasa kenyang dan nyaman. Tapi masih disambarnya pula goreng pisang yang baru diangkat dari wajan. Lalu mulutnya mengeluarkan sendawa.

“Tolong kopi, sekalian rokoknya sini.”

“Sudah berapa tahun nggak makan, Kang? Setan saja nggak serakus itu,” kata ibu warung seraya meletakkan secangkir kopi, sebungkus rokok, dan korek api di atas meja.

Lalu mengangkat piring-piring dan baskom yang telah licin karena tadi sampai dijilat-jilat Sutaryono.

“Sepi sekali desa ini,” ujar Sutaryono. Ibu warung hanya melirik sebentar. Dia sudah terlalu sering mendengar komentar seperti itu dari pembeli yang mampir ke warungnya. Jadi dia merasa tidak perlu menjawab kecuali sepatah kata sekadar untuk menghormati pembeli.

“Padahal seingat saya dulu desa ini ramai dan padat penduduknya. Pada ke mana mereka?” lanjut Sutaryono sembari mengembuskan asap rokok.

“Memangnya Akang berapa puluh tahun dikubur, kok seperti baru tahu desa ini sepi?” tanya ibu warung seraya ngeloyor masuk warung dan meneruskan kesibukannya menggoreng tempe.

“Lumayan lama. Dua puluhan tahun, mungkin lebih. Lupa saya tepatnya,” kata Sutaryono sembari mengingat-ingat hidupnya sebelum dikubur.

Sayup-sayup dia mulai ingat sepotong demi sepotong kisah hidupnya pada masa lalu.

Dulu Sutaryono kades di desa ini. Dia mengalahkan Salamun saingannya dengan cara curang—tetapi siapa memangnya yang tidak curang dalam pemilihan kepala desa?

Subuh sebelum perhelatan pemilihan kepala desa berlangsung siang harinya, dia melakukan serangan fajar mengebom warga desa dengan uang dua ratus ribu per kepala. Meski menang tipis dari Salamun itu bukan masalah, yang penting dia dilantik menjadi kepala desa. Titik.

Sebenarnya menjadi kades bukanlah impian Sutaryono. Bahkan sejak muda tak pernah terbersit pikiran menjadi kades. Apalagi setelah dia sukses jadi saudagar bawang yang kaya raya dengen sederet usaha lainnya, mulai dari toko bangunan hingga pom bensin.

Keinginan menjadi kades muncul setelah melihat Salamun mencalonkan diri. Permusuhannya dengan ustaz itu sudah menjadi rahasia umum di desanya, bahkan hingga desa-desa tetangga.

Ajang pemilihan kepala desa adalah kesempatan yang paling bagus untuk menghancurkan Salamun. Selain itu Sutaryono tergiur dengan banyaknya bantuan yang mengalir ke desa dari pemerintah pusat maupun daerah.

Jika jadi kades tentu itu lumayan untuk menambah kekayaannya makin bertumpuk. Maka kecil bagi Sutaryono kalau hanya menabur uang dengan jumlah dua kali lebih besar dari yang dibagi-bagikan Salamun kepada warga.

Waktu kecil hingga remaja Salamun sebenarnya sahabat paling dekat yang dimiliki Sutaryono. Kegemaran mengintip orang mandi—dan pengantin baru— menyatukan mereka.

Persahabatan keduanya berakhir lantaran Salamun memacari Ayuning, hingga adik Sutaryono itu hamil. Semula Sutaryono bersyukur Ayuning yang berkulit bersih namun buruk rupa ditambah mengidap epilepsi itu mendapat pacar laki-laki yang cukup tampan seperti Salamun.

Sutaryono masih tetap bisa menerima seandainya Salamun bertanggung jawab menikahi Ayuning. Sayangnya yang terjadi sebaliknya, Salamun tidak mengakui perbuatannya dan pergi nyantri ke Jawa Timur.

Malam sebelum sahabatnya itu berangkat, Sutaryono sempat menemui Salamun di rumahnya untuk meminta pertanggungjawaban.

Dia berharap persoalannya segera selesai. Namun yang didapatinya di luar perkiraan. Salamun bukan hanya mengelak, “Kamu salah alamat, Sutar. Seharusnya kamu datangi Narto, Darpan, dan, Basdar. Merekalah yang bertanggung jawab. Bukan aku,” kata Salamun seperti melempar tai ke wajah Sutaryono yang membuat darah Sutaryono naik ke ubun-ubun.

Sutaryono tak mampu menahan kemarahannya. Dia bertubi-tubi meninju muka Salamun sampai ayah dan saudara-saudara Salamun berdatangan menghentikan perbuatan Sutaryono dan melemparnya keluar.

Sebelum pergi dia berteriak mengancam akan membuat perhitungan dengan Salamun. Lalu dengan dada terbakar amarah dia mendatangi rumah tiga nama yang disebutkan Salamun. Namun ketiga orang itu telah kabur lebih dulu.

Malam itu Sutaryono pulang ke rumah dengan hati hangus yang tampaknya susah dipulihkan kembali. Dia merasa keluarganya telah dihina dan dipermalukan.

Dia bersumpah akan membunuh para bajingan yang telah menghancurkan masa depan Ayuning. Dendam Sutaryono belum terbalas, sampai lima belas tahun kemudian Salamun kembali ke desa sebagai ustaz yang dihormati warga.

Waktu itu Sutaryono sedang merintis usaha jadi saudagar bawang. Dia kerap bolak balik ke kota sebelah untuk urusan bawang. Sedangkan Ayuning sudah dinikahi seorang dukun sakti di Harjamukti.

Anaknya sekarang sudah remaja. Sampai saat ini Sutaryono tak tahu siapa bapak dari keponakannya di antara empat bajingan itu.

Kesibukan dan bisnis Sutaryono yang menanjak pesat berkat keuletannya ditambah jampi-jampi dukun membuat dendamnya kepada empat bajingan itu sedikit meredup. Namun kebencian di dadanya tetap terpelihara dengan baik.

“Suatu saat dendam ini harus kubalaskan,” ujar Sutaryono kepada Saripah, istrinya.

“Tidak sehat memelihara dendam, Pap,” kata Saripah.

“Jangan khotbah di depanku, Mam. Kamu tak tahu apa-apa. Kamu tak mengerti,” sahutnya.

“Sebentar lagi kamu kaya dan mereka jatuh miskin. Itu sudah cukup jadi hukuman bagi mereka,” kata Saripah. Dia membelai wajah Sutaryono yang tidak jelek-jelek amat itu.

Lalu memijit bahu suaminya untuk memberi perasaan nyaman. Sutaryono terpejam menikmati pijatan lembut perempuan itu, namun pikirannya bekerja keras mencari cara terbaik menghancurkan Salamun.

Selama ini alam semesta seperti selalu memenangkan Salamun. Bukan hanya dianugerahi wajah mirip bintang film India yang membuatnya dengan mudah memikat perempuan, termasuk Kartewi yang dulu diincar Sutaryono.

Gadis cantik anak mantan pak kades itu kini menjadi istri Salamun. Yang paling membuat Sutaryono merasa seolah jadi korban persekongkolan keji adalah bagaimana warga desa bisa dengan mudah melupakan kebobrokan Salamun di masa lalu.

Hanya satu yang membuat Sutaryono merasa sedikit lega, karir Salamun sebagai ustaz hanya seputar masjid desa, tak beranjak ke mana-mana. Kehidupan ekonomi keluarganya ditopang mertuanya yang masih memiliki sisa karisma bangsawan kampung.

Dia bernafsu membangkitkan kejayaan masa lalu lewat sang menantu. Dengan dukungan dana hasil menjual tanah dia mendorong Salamun ikut dalam pencalonan kepala desa. Di ajang pemilihan kepala desa untuk pertama kalinya dalam hidup Sutaryono berhasil mengalahkan Salamun.

Hanya dalam dua tahun setelah dilantik menjadi kepala desa, hampir separuh tanah di desa jatuh ke tangan Sutaryono. Dia membangun pabrik garmen dan merambah bisnis pom bensin.

Jabatan kepala desa diserahkan kepada adik ipanya. Kini Sutaryono merasa tak perlu membunuh Salamun dan tiga bangsat lainnya.

Dia sudah cukup puas melihat mereka gila lantaran istri dan saudara perempuan mereka dia ambil sebagai gundiknya. Setiap bercinta dengan para gundiknya ini Sutaryono selalu menghina mantan suami mereka.
***
SUTARYONO mengangsurkan cincin emas kepada ibu warung untuk membayar makanan yang telah disantapnya. Bergegas meninggalkan ibu warung yang girang bukan kepalang mendapat cincin emas.

Kini Sutaryono dapat mengingat semuanya. Tubuhnya yang telah segar membuat langkahnya mantap dan ringan. Dia berjalan mencari rumahnya dan akan membunuh gundik-gundiknya yang telah bersekongkol meracuninya. ***

Cirebon, 21 Januari 2021

Aris Kurniawan, menulis cerpen, puisi, resensi, esai untuk sejumlah penerbitan. Buku cerita terakhirnya: Monyet Bercerita (Basabasi, 2019).

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...