Digital Informasi, Dianggap Efektif Promosikan Potensi Wilayah

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

BANDUNG — Penggunaan teknologi dalam kehidupan masa kini, sudah menjadi suatu keharusan. Selain karena masa pandemi, tingkat penggunaan internet di Indonesia, walaupun jaringan belum merata, dianggap lebih efektif untuk mempromosikan atau menginformasikan sesuatu hal pada masyarakat. Seperti yang diakui oleh Diskominfo Kabupaten Bandung.

Kepala Seksi Penyelenggaraan Komunikasi Publik Diskominfo Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Adhie Nur Indra saat dihubungi, Rabu (20/1/2021) – Foto Ranny Supusepa

Kepala Seksi Penyelenggaraan Komunikasi Publik Diskominfo Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Adhie Nur Indra menyatakan, salah satu fungsi Diskominfo adalah mengelola informasi dan komunikasi berbagai potensi yang ada di masyarakat.

“Masalahnya kita kan sudah di era digital 4.0 yang semuanya bermain di internet. Sudah tidak efektif lagi kalau menyampaikan info melalui media lama seperti koran, sarasehan, atau pidato. Orang lebih tertarik dapat info dari medsos. Sederhananya orang lebih senang lihat aplikasi sosial daripada pidato pejabat atau kelompencapir,” kata Adi saat dihubungi, Rabu (20/1/2021).

Atas dasar inilah, lanjutnya, Diskominfo Kabupaten Bandung akhirnya memutuskan untuk membangun channel dalam membranding potensi yang di Kabupaten Bandung. Masyarakat bisa mengetahui apa saja potensi kabupaten dan tidak salah dalam melihat apakah potensi itu kolik Kabupaten Bandung atau bukan.

“Kabupaten Bandung itu banyak potensinya tapi tidak banyak yang tahu. Misalnya, Tebing keraton atau Bukit Moko yang lagi viral disebutnya Bandung. Padahal itu di Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung. Orang lebih banyak bilang Pangalengan atau Ciwidey di Bandung bukan Kabupaten Bandung,” ucapnya.

Selain itu channel yang dibangun Diskominfo Kabupaten Bandung juga ditujukan untuk memunculkan potensi-potensi Kabupaten Bandung yang belum muncul ke permukaan.

“Branding Kabupaten Bandung, mengarah pada smart village. Dengan pertimbangan Kabupaten Bandung terdiri dari 31 kec, 270 desa dan 10 kelurahan, maka branding yang diusung adalah Bandung 1000 Kampung. Maksudnya ribuan potensi desa dan kampung yang ada di Kabupaten Bandung,” tutur pria lulusan HI Universitas Pasundan ini.

Selain itu, ia menyebutkan langkah ini juga bisa menghindari produk Kabupaten Bandung diakui oleh daerah lain sebagai produknya.

“Banyak juga produk Kabupaten Bandung yang diakui sebagai milik daerah lain. Contoh kopi, yang di podcast terakhir saja disebutkan kopi Medan, hanya karena dikirim ke Medan,” ucapnya.

Tujuan akhir dari program ini, lanjutnya, adalah sepenuhnya untuk masyarakat, terutama pelaku ekonomi.

Lihat juga...