FPPB Sikka Kritisi Batasan Jam Operasional Pub dan Karaoke

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Surat Edararan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) yang dikeluarkan oleh Satgas Covid-19 Kabupaten Sikka Nomor 05/C-19/1/2021, tertanggal 10 Januari 2021 dipersoalkan Forum Peduli Penanggulangan Bencana (FPPB) Kabupten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam surat edaran di poin 8 disampaikan bahwa aktivitas usaha, pasar, rumah makan, cafe, warung makan, restoran, tempat wisata dan sejenisnya tetap dapat dilakukan dan dibatasi hingga pukul 22.00 dengan berpedoman pada protokol kesehatan.

“Sementara khusus pub dan diskotik dibatasi hingga pukul 24.00 WITA. Hemat kami, perbedaan perlakuan pembatasan dapat memunculkan mismanajemen penanggulangan,” tegas Ketua FPPB Sikka, Carolus Winfridus Keupung saat dihubungi Cendana News, Minggu (17/1/2021).

Ketua FPPB Sikka, Carolus Winfridus Keupung saat ditemui di kantornya di Kota Maumere, Jumat (15/1/2021). Foto: Ebed de Rosary

Win sapaannya menyebutkan, aktivitas pub dan karaoke juga sangat memungkinkan terjadinya penyebaran yang tinggi karena berkumpulnya banyak orang dalam suatu area yang kecil.

Menurutnya, di pub dan karaoke yang tertutup sangat sulit dilakukan kontrol sosial dari masyarakat lainnya. Hal ini kata dia, karena dengan adanya risiko penyebaran yang tinggi di ruang tertutup ber-AC seperti pub dan karaoke, maka seharusnya diberlakukan pembatasan yang lebih ketat.

“Kita juga harus menjaga agar pembatasan aktivitas malam tidak memberi kesan seakan virus hanya menyebar pada malam hari. Padahal kalau dicermati secara baik,aktivitas usaha justru tinggi pada siang hari,” ucapnya.

Win menambahkan, penekanan pada aktivitas malam sebenarnya kurang memberi dampak pada upaya pencegahan Covid-19.

Ia menyebutkan, memang ada beberapa usaha yang aktivitasnya tinggi pada malam hari yaitu pub, diskotik, warung senja di belakang Gelora Samador dan di samping kali mati depan hotel Kabor.

Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM) menegaskan, yang harusnya diperketat adalah tempat seperti pub, diskotik, dan warung makan.

“Kios dan toko terjadi penurunan aktivitas yang sangat tinggi pada malam hari dibanding siang hari.Sebaiknya  diberlakukan protokol kesehatan yang ketat,” sarannya.

Sementara itu Juru Bicara Satgas Covid Sikka Muhammad Daeng Bakir kepada media menyebutkan, terkait kebijakan untuk pub dan diskotik hal tersebut sesuai dengan pertimbangan bupati Sikka.

Daeng Bakir memaparkan, para pengusaha pub dan diskotik bertemu bupati Sikka dan mengeluhkan usaha mereka yang tidak berjalan akibat adanya pembatasan kegiatan masyarakat.

“Bupati Sikka mempertimbangkan terkait pendapatan pengusaha pub dan diskotik yang secara tidak langsung berkontribusi bagi pendapatan daerah.Tapi bukan berarti pengusaha lainnya tidak memberikan kontribusi bagi daerah,” terangnya.

Menurut Daeng Bakir, pengusaha lainnya bisa membuka usaha sejak pagi hari sementara pub dan diskotik tidak bisa membuka usaha di siang hari karena usaha mereka baru bisa dibuka pukul 20.00 WITA.

Lihat juga...