Harga Kedelai Naik, Pengrajin Tempe Sanan Tetap Produksi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MALANG — Tidak jauh berbeda dengan daerah lainnya, harga kedelai di kota Malang juga mengalami kenaikan dari yang sebelumnya Rp. 8.000, sekarang menjadi Rp. 9.100. Menanggapi hal tersebut, para pengrajin tempe di sentra industri dan keripik tempe kampung Sanan mengaku tidak terkejut,karena hampir setiap tahun harga kedelai mengalami kenaikan.

Ketua Primer Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (PRIMKOPTI) Bangkit Usaha Kota Malang, Chamdani mengatakan, berdasarkan pengalaman, kenaikan harga kedelai tidak hanya terjadi sekali ini saja, tahun-tahun sebelumnya juga kerap terjadi.

“Berdasarkan pengalaman pula, pada akhir Februari atau awal Maret biasanya terindikasi kebutuhan kedelai di negara kita akan tercukupi kembali,” ujarnya saat ditemui di tempat usahanya, Selasa (5/1/2021).

Karena sudah sering terjadi kenaikan harga, para pengrajin di Sanan sudah memiliki cara guna menyiasati kondisi tersebut supaya mereka tidak terlalu merugi. Salah satunya dengan mengurangi ukuran tempe.

“Kalau harga kedelai naik, biasanya pengrajin tidak menaikkan harganya tapi lebih memilih untuk memperkecil ukuran tempenya. Ukuran yang biasanya 26 cm, panjang 52 cm dan tebal 6 cm kita kecilkan menjadi lebar 23 cm, panjang 50 cm dan tebal 4,5 cm dengan harga tetap,” ujarnya.

Kalau terkait pasokan kedelainya sendiri di kota Malang sejauh ini masih lancar, khususnya di Sanan.

“Menurut ukuran saya belum ada gejolak, jadi selama kedelai masih ada, para pengrajin akan mampu menyiasati penjualan tempe,” tuturnya.

Senada, pengrajin tempe Sanan, Anik Purnimawati, mengaku mulai merasakan kenaikan harga kedelai saat menjelang natal dan tahun baru.

“Setiap tahun selalu ada kenaikan harga, terutama pada saat menjelang lebaran, natala dan tahun baru. Jadi kami sudah terbiasa sehingga kaget dan tidak terlalu banyak berdampak,” akunya.

Sama seperti kebanyakan pengrajin tempe di Sanan, Anik menyiasati dengan mengurangi ukuran tempe.

“Tidak ada kenaikan harga tempe, tetap sama seperti sebelumnya 18-20 ribu per alir, tapi ukurannya yang kita kurangi atau diperkecil sedikit tapi tidak terlalu kentara. Jangan sampai pelanggan kita tidak mau membeli  karena harga tempenya naik atau ukurannya terlalu kecil,” ucapnya.

Meski diakui Anik pendapatannya saat ini otimatis berkurang, namun ia tetap merasa bersyukur karena dirinya bersama beberapa warga Sanan memiliki tabungan berupa Sapi potong yang pakannya berasal dari limbah tempe.

“Jadi walaupun harganya naik, tapi kita tetap produksi tempe. Karena selain untuk dijual, limbah dari proses pembuatan tempe kita manfaatkan sebagai pakan ternak,” pungkasnya.

Lihat juga...