Harga Komoditas Laut di Kota Semarang Mulai Merangkak Naik

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Gelombang tinggi yang berlangsung sejak awal Desember 2020 lalu, mengakibatkan pasokan hasil tangkapan laut berkurang. Hal tersebut dikarenakan banyak nelayan yang tidak berani melaut di tengah cuaca buruk, imbasnya harga beberapa hasil tangkapan laut di Kota Semarang, mulai mengalami kenaikan.

“Sampai sekarang masih gelombang tinggi, karena ada angin barat, gelombang bisa sampai 3  meter. Kadang kita juga ‘colongan’, pas angin tidak terlalu kencang, pergi melaut, tapi resikonya juga tinggi, karena cuaca tidak bisa diduga,” papar Kusworo, salah seorang nelayan, saat ditemui kampung nelayan, Tambaklorok, Kota Semarang, Selasa (12/1/2021).

Minimnya kesempatan untuk melaut tersebut akibat cuaca tidak mendukung, mengakibatkan stok ikan terbatas. Tidak hanya itu, risiko yang dihadapi nelayan juga terlalu tinggi, dengan adanya gelombang besar. Kombinasi kedua faktor tersebut, menyebabkan harga komoditas hasil laut pun meningkat.

Harga ikan kembung yang biasanya 28 ribu rupiah, naik menjadi 35 ribu rupiah per kilogram. Harga ikan tongkol menjadi 40 ribu rupiah dari sebelumnya 30 ribu rupiah per kilogram. Kemudian, cumi-cumi besar 80 ribu rupiah per kilogram, sampai ke harga ikan teri kering meningkat menjadi Rp 70 ribu dari sebelumnya Rp 40 ribu per kilogram.

“Sekarang harga ikan sudah mulai naik, soalnya nelayan banyak yang tidak berani melaut. kalau colongan, juga risiko tinggi,” jelas Marifa, warga Tambaklorok Semarang, disela menjemur ikan teri di halaman rumahnya.

Warga Tambaklorok, Mufarika dan Marifa, tengah memilah ikan teri yang sudah ditangkap, untuk kemudian dijemur, saat ditemui di kampung nelayan Tambaklorok Semarang, Selasa (12/1/2021). -Foto Arixc Ardana

Dirinya mencontohkan harga ikan teri kering melonjak hampir dua kali lipatnya. “Ini harga untuk teri kering tanpa garam, kalau yang digarami atau diasinkan Rp 30 ribu per kilogram. Saya jual di pasar ikan Tambaklorok,” paparnya, sembari menunjuk lokasi pasar yang terletak hanya sekitar 50 meter dari kediamannya tersebut.

Ikan-ikan teri tersebut dijemur hingga kering, sebelum dijual. Setidaknya butuh 2-3 hari untuk mengeringkan ikan dengan bantuan terik sinar matahari.

“Kondisi ini ya bikin susah nelayan. karena tidak bisa melaut. Pembeli juga pasti susah juga , karena harga ikan naik, namun bagaimana lagi. Kondisinya memang seperti ini,” tambahnya.

Beruntung, gelombang cuaca yang tinggi tidak terlalu berpengaruh pada jumlah tangkapan, setidaknya untuk ikan teri. Sekali melaut bisa menghasilkan sekitar 15- 20 kilogram ikan teri basah. “Itu kalau bisa sehari penuh melautnya, tapi kalau kurang dari itu, ya hasilnya juga berkurang. Nanti dijemur sampai kering, dari 20 kilogram basah, kalau sudah kering jadi sekitar 10-12 kilogram,” tambah Mufarika, warga Tambaklorok lainnya.

Hingga hari ini, Selasa (12/1/2021), BMKG Maritim Semarang juga masih mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi di wilayah pantai utara Jawa.

“Gelombang tinggi ini, karena adanya pola angin di Wilayah Indonesia bagian utara yang umumnya dari Tenggara sampai Barat Daya dengan kecepatan 6-30 knot. Kita pun sudah mengeluarkan peringatan gelombang tinggi di perairan laut Jawa, kita himbau agar para nelayan untuk berhati-hati,” terang Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Maritim Semarang, Slamet Wiyono, saat dihubungi.

Gelombang tinggi tersebut masih terjadi di perairan Kalimantan tengah bagian barat, perairan Laut Jawa bagian tengah, perairan Karimunjawa, Brebes-Pemalang, Semarang -Demak, Jepara hingga perairan Pati-Rembang, dengan tinggi gelombang mencapai 1,5 meter hingga 2,5 meter.

Lihat juga...