Hari yang Baik untuk Berburu

CERPEN ANAS S. MALO

AKU berjalan sambil menenteng senapan angin dan tombak,menyusuri jalan berkapur, melewati rumah-rumah penduduk.

Aku pikir, hari ini adalah hari yang baik untuk berburu, karena hari ini adalah hari keberuntunganku. Babi hutan akan mudah aku taklukkan tanpa kesulitan yang berarti.

Biasanya babi hutan akan berkeliaran di pagi hari dan malam hari. Karena memang babi hutan adalah hama di kampung kami, maka kami memburunya.

Dagingnya gurih, berminyak seperti babi ternak, hanya saja tekstur dagingnya lebih alot ketimbang babi ternak, karena memiliki otot-otot yang penuh— hidup di alam liar membuat mereka lebih kuat dan lebih tangkas.

Setelah menempuh perjalanan selama 10 menit, sampailah aku ke halaman rumah bertembok kayu jati bercat putih kusam sedikit mengelupas.

Aku memanggil Narto. Aku pikir, Narto belum bangun, ternyata dia menyahut suaraku.

Aku lihat beberapa tanaman menghiasi halaman rumah Narto, seperti lidah buaya dan bunga sepatu. Tidak mungkin Narto yang menanamnya, sebab aku tahu, dia tidak peduli dengan tanaman. Pasti adik perempuannya yang menanamnya.

“Kenapa kau masih di situ. Ayo masuk,” ucapnya setengah berteriak di balik jendela kamarnya. Aku masuk ke rumahnya. Dia melihatku menenteng senapan dan tombak yang kusarungkan ke pundak kiri.

“Apa kau punya kesibukan hari ini?” tanyaku.

“Tidak ada. Kau mau berburu?” dia balik bertanya.

“Kau tidak melihat senapan dan barang yang kubawa ini? Tentu saja aku mau berburu,” ucapku.

“Berburu apa?” tanyanya berlagak bodoh.

“Apa saja yang nanti aku temui di hutan. Aku menginginkan menjangan atau babi hutan, bahkan kalau aku lihat beruang madu, misalnya, aku sikat”.

“Baiklah. Tunggu sebentar,” jawabnya.

Setelah Narto bersedia untuk menemaniku berburu, ia mengisi peluru dan menyetel senapannya. Dia mencoba menjajal keampuhan senapannya dengan membidik sasaran berupa pohon lamtoro yang ada di depan rumahnya.

Tepat saja, lamtoro yang terkena luncuran peluru Narto menembus kulit kayu. Ia juga membawa tombak dan parang.
Kami sudah siap untuk menelusuri hutan mencari binatang buruan dengan semangat berapi-api.

Berburu sudah menjadi kebiasaan bagi penduduk, apalagi di musim panen. Mereka akan berburu sesuai dengan apa yang menjadi hama bagi kebun mereka. Entah itu babi hutan, kijang, kelinci, monyet atau burung.

Binatang-binatang tersebut akan memakan tanaman-tanaman mereka sebelum panen. Biasanya beberapa jenis tanaman, seperti jagung, umbi-umbian, terong, tomat, kacang akan menjadi sasaran binatang tersebut.

Kijang dan babi hutan biasanya akan memakan lahap jagung muda dan daun-daun umbi. Bahkan babi hutan bisa menggali umbi yang berada di dalam tanah

Maka dari itu, berburu sebuah kegiatan wajib di kampung kami untuk mempertahankan hasil kebun. Anak-anak laki-laki yang sudah akil balig biasanya sudah diajak berburu.

Bagi kami, berburu adalah simbol dari keperkasaan seorang laki-laki.

Aku dan Narto segera beranjak dari balai-balai yang berada di teras rumahnya menuju hutan. Aku telanjang kaki, sementara Narto memakai sepatu boot hitam. Kami berjalan melawati jalan setapak menuju hutan.

Karena hari ini adalah hari keberuntunganku, aku yakin, aku dapatkan babi hutan yang besar. Kemudian akan aku bawa pulang dan akan dimasak menjadi babi guling oleh ibuku.

Orang-orang pasti memuji dengan hasil buruanku. Nanti aku juga akan membawakan kelinci betina untuk bibiku. Dia suka sekali dengan daging kelinci yang sedang hamil, karena janinnya akan dia pepes dengan daun pisang.

Pohon gamal dan pohon jati berderet meneduhi kami, menyusuri jalan. Untuk sampai ke hutan, kami menempuh perjalanan sekitar seperempat jam dari rumah Narto. Kami sudah akrab dengan hutan, berburu, parang, tombak, panah atau pun senapan.

Generasi kami sudah agak lebih mudah karena menggunakan senapan. Sedangkan masa muda ayah masih pernah menggunakan tombak atau panah sebagai alat berburu.

Kami sudah sampai ke mulut hutan. Kami disambut oleh burung-burung perenjak.

“Kau yakin hari ini dapat binatang buruan?” kata Narto.

“Pastilah, aku yakin, seyakin-yakinnya. Bahkan aku sudah mencium bau babi hutan dan menjangan,” jawabku.

“Kau ini, omonganmu setinggi langit, tapi tidak terbukti. Kau hanya pandai membual.”

Aku merasa tersinggung dengan ucapan Narto.

“Baik. Aku akan buktikan kepadamu. Bahkan aku tidak hanya bisa membawa pulang babi hutan tetapi aku akan membawa kulit harimau,” tantangku.

Kami terus menyusuri hutan tanpa tegur sapa. Terutama aku yang tersinggung dengan ucapan Narto barusan. Dalam pencarian, kami melihat babi hutan betina bersama anak-anaknya yang berjumlah enam ekor.

Aku dan Narto bersiap. Kami mengintai dari jarak belasan meter dengan posisi kami masing-masing.

Aku mengintai induk dari kawanan babi hutan itu. Mereka masuk ke belukar. Aku mengejarnya dengan hati-hati supaya tidak lari.

Dalam posisi siap membidik, peluru Narto melesat nyaris menembus kepala binatang buruan itu. Kawanan babi hutan tersebut panik dan melarikan diri.

Berburu dengan senapan memang tidak semudah apa yangdibayangkan. Namun aku berpikir, hal itu karena kesalahan Narto yang tidak becus membidik dan membuat binatang buruan kabur. Seharusnya, aku tidak mengajaknya berburu.

“Apa yang kau lakukan bodoh!” umpatku. Dia menatapku tajam, penuh kekesalan.

“Kau yang dungu. Kalau tidak bisa menggunakan senapan, mending pulang saja, lalu ke dapur, bantu ibumu memasak,” balasnya. Aku mengacungkan senapan ke arahnya. Keringat mulai bercucuran. Lelah mulai menghinggapi tubuh kami.

“Kau pikir hanya kau saja yang punya senapan? Aku juga punya!” ancamnya. Kami saling berhadap-hadapan dengan moncong senapan. Meskipun kami sudah berteman sejak kecil, tetapi tidak ada yang mau mengalah. Kami bisa akrab karena mempunyai kegemaran yang sama, yaitu berburu.

Kami masih dalam posisi tegang. Amarah kami masih belum padam. Dalam hati, aku bertanya-tanya apa benar dia benar-benar mau membidikku?

Selang beberapa waktu, aku menurunkan senapanku dan bersepakat untuk berburu sendiri-sendiri. Jika kami masih tetap bersama, kami akan selalu bertengkar. Kami berjalan dengan arah yang berlawanan. Aku berjalan melewati jalan setapak di hutan sebelah selatan dan Narto ke sebelah barat.

Aku harus mendapat binatang buruan yang lebih besar dari pada hasil buruannya. Mungkin saja Narto juga akan melakukan hal yang sama.

Setelah aku menyusuri hutan tanpa kehadiran Narto, aku melihat seekor babi hutan yang sangat besar berwarna hitam gelap sedang menyantap jamur yang ada di dahan pohon.

Dia memiliki gigi taring yang besar melengkung ke atas. Aku maju perlahan mencari posisi tembak yang tepat. Terlihat jalan, babi jantan itu berbulu lebat. Dengusannya menakutkan.

Aku ingin membidiknya dengan jarak dekat. Perlahan aku mulai merangsek di antara belukar-belukar. Namun babi hutan itu sudah mengetahui keberadaanku. Dia mulai waspada.

Terlintas di benakku, akan lebih terhormat apabila aku mendapatkannya dengan cara menombaknya bukan menembaknya, seperti kakek dan ayahku yang gagah berani menaklukkan binatang buas.

Aku tenteng kembali senapanku dan aku mengeluarkan sebilah tombak untuk menaklukkan babi hutan itu. Aku merangsek dan seketika aku melempar tombak itu di bagian punggung binatang buruan itu.

Dia mengerang kesakitan saat tombakku berhasil melukainya, meskipun tombak itu tidak berhasil menancap di punggungnya.

Dia balik menyerangku. Dia menyeruduk dengan membabi buta. Aku melompat di sisi kirinya untuk menghindari serudukannya. Aku mencoba menggunakan senapan untuk melumpuhkan babi hutan itu, namun tidak sampai membidik, babi hutan itu terus menyerangku dengan cepat.

“Astaga, ini benar-benar bodoh,” pikirku.

Aku mulai terdesak. Binatang itu melenguh keras. Dengan cepat, dia berhasil merobohkanku dan terus memojokkanku. Senapan terlempar. Pahaku terasa sakit akibat serudukannya.

Sekujur tubuhku terasa perih akibat sosoran menyusur tanah. Aku sudah tidak berdaya. Senjataku sudah menjauh dari jangkauan.

Di tengah jantung yang berdebar tak karuan dan hanya bisa pasrah, tiba-tiba peluru melesat di paha kiri binatang itu. Binatang itu meronta-ronta.

Debu-debu dan daun-daun kering berhamburan. Burung-burung beterbangan. Erangannya begitu mengiris. Peluru meluncur kembali tepat di kepala babi hutan itu yang akhirnya menewaskannya.

Di balik dahan, muncul Narto. Dia menghampiriku, kemudian memapahku untuk berdiri. Dia mengikat babi hutan itu dengan sebuah tali di bagian kaki depan dan belakang.

Kemudian dengan perkasa, dia mengangkatnya di pundak sebelah kiri dan kanan.

Kami pulang. Narto berjalan sempoyongan di depanku memikul hasil buruan. Sementara aku berjalan tertatih-tatih memikul penyesalan. ***

Anas S. Malo, lahir di Bojonegoro, Jawa Timur. Belajar di Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta prodi Teknologi Hasil Pertanian. Karya-karyanya sudah tersiar di media lokal maupun nasional. Finalis National Community Investors Award 2018. Antologi cerpen diterbitkan Belibis Pustaka yang berjudul Si Penembak Jitu.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...