Hasil Tangkapan Ikan Nelayan di Flotim, Menurun

Editor: Koko Triarko

LARANTUKA – Hasil tangkapan nelayan Huhate (Pole and Line) di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, mengalami penurunan pascaerupsi Gunung Api Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata. Ikan tuna dan cakalang yang biasa ditangkap di perairan di ujung timur pulau Flores yang berbatasan dengan pulau Adonara dan Lembata, yang biasanya mudah ditangkap seakan menghilang.

“Kami juga tidak tahu kenapa bisa terjadi.Biasanya di perairan ujung timur Pulau Flores berbatasan dengan perairan pulau Lembata banyak ikan tuna dan cakalang,” kata Frengky D, nelayan di Kota Larantuka, saat dihubungi Cendana News, Senin (18/1/2021).

Menurut Frengky, bukan cuma perairan di pantai selatan ujung timur Pulau Flores, tetapi hinggga perairan lepas termasuk di sekitar Pulau Lembata dan Solor yang berbatasan dengan Laut Sawu.

Kepala Bidang Perizinan Usaha dan Sumber Daya Perikanan, Dinas Perikanan Kabupaten Flores Timur, NTT, saat ditemui di rumahnya, Minggu (19/7/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Ia mengatakan, dalam sehari biasanya saat musim ikan cakalang saat musim barat bulan November sampai Februari, di laut timur Pulau Flores sekali melaut bisa mendapatkan minimal 2 ton sehari dengan jarak 20 mil.

“Sejak ada letusan gunung api Ile Lewotolok, ikan tuna dan cakalang di perairan selatan Flores bagian timur seakan menghilang. Kapal kami pun terpaksa memancing di pantai utara Flores,” ucapnya.

Hal senada juga disampaikan Dus Demoor, Kepala Bidang Perizinan Usaha dan Sumber Daya Perikanan, Dinas Perikanan Kabupaten Flores Timur, yang mengaku dampak erupsi gunung api Ile Lewotolok menyebabkan tangkapan nelayan berkurang.

Dus mengaku mendapatkan keluhan dari para nelayan kapal huhate soal ikan tuna dan cakalang di perairan selatan ujung timur Pulau Flores yang menghilang, padahal seharusnya sedang musim penangkapan ikan tuna dan cakalang.

“Sejak erupsi gunung api Ile Lewotolok di akhir November, ikan tuna dan cakalang sulit ditemui di parairan pantai selatan ujung timur Pulau Flores. Kemungkinan ikan teri dan cumi-cumi sebagai makanannya pun tidak ada,” ujarnya.

Dus juga hanya menduga, selain makanan ikan tuna dan cakalang menghilang, bisa juga ada dampak dari letusan tersebut yang membuat suhu air laut di perairan pantai selatan meningkat karena dekat dengan gunung api Ile Lewotolok.

Dirinya mengaku hanya menduga saja apakah memang ada pengaruh dari erupsi gunung api Ile Lewotolok, sebab sebelumnya di perairan ini ikan cakalang dan tuna mudah didapat.

Ditambahkannya, sebelumnya ikan tuna dan cakalang di perairan ini melimpah. Apalagi, dampak pandemi Corona membuat ikan tuna dan cakalang masuk hingga ujung timur perairan pantai selatan Flores.

“Sebelum erupsi gunung api Ile Lewotolok, nelayan hanya butuh waktu satu dua jam melaut sudah mendapat hasil melimpah, karena tidak banyak nelayan yang melaut karena harga menurun dan ikan sulit dijual,” ungkapnya.

Lihat juga...