Hotel dan Penginapan di Sikka Masih Sepi Pengunjung

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Sejumlah hotel dan penginapan di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, hingga kini masih sepi kunjungan akibat dampak pandemi Covid-19 yang masih berlangsung.

Hotel dan penginapan di Sikka selama ini mengandalkan tamu wisatwan asing, sehingga keka terjadi pandemi, praktis turis asing tak ada yang datang. Sejumlah pengelola hotel pun mengatakan, kerugian selama 2020 mencapai lebih dari 90 persen.

“Sejak April tahun lalu praktis tidak ada lagi wisatawan asing yang menginap di hotel kami akibat dampak pandemi Corona,” kata Manajer Sea World Club Beach Resort and Dive Center, Kota Maumere, Rafael Raga, saat ditemui di rumahnya, Minggu (3/1/2021).

Manajer Sea World Club Beach Resort and Dive Center, Rafael Raga, saat ditemui di rumahnya, Minggu (3/1/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Rafael mengatakan, resortnya biasa menampung wisatawan asing dari Eropa dan Amerika yang biasa berlibur ke Kabupaten Sikka. Namun, sejak April 2020 tidak ada lagi wisatawan asing yang menginap.

Selain itu, kata dia, tamu nusantara dan lokal pun sejak Mei 2020 tidak ada yang menginap karena biasanya tamu yang menginap sekaligus menyelenggarakan kegiatan di tempatnya.

“Kami pun terpaksa meliburkan karyawan, termasuk bisnis wisata diving, di mana peralatan kami pun tidak ada yang menyewanya sama sekali. Rata-rata wisatawan asing yang menginap selalu menyelam di Teluk Maumere,” ucapnya.

Manajemen hotel, kata Rafael, melakukan berbagai terobosan dengan melakukan berbagai kerja sama dengan pelaku usaha di Denpasar untuk memperbaiki pelayanan dan mempromosikan usahanya.

“Kami melakukan kerja sama dengan aplikasi penjualan tiket online dan berbagai pelaku usaha, untuk meningkatkan kunjungan tamu bila pandemi Covid-19 berakhir. Semoga 2021 ini keadaan kembali normal,” harapnya.

Hal senada juga disampaikan Ignasius Kassar pemilik Blue Ocean Cottage and Restaurant, Desa Watuliwung, Kecamatan Kangae yang juga mengaku baru bulan September 2020 ada satu – dua tamu yang menginap di tempatnya.

Ignas, sapaannya, mengatakan praktis pendapatan tempat usahanya berkurang hingga 90 persen lebih akibat pandemi Corona yang menyebabkan wisatawan asing tidak bisa melakukan perjalanan wisata.

“Tamu saya sebagian besar merupakan wisatawan asing, sehingga dengan merebaknya pandemi Corona praktis tempat usaha saya kehilangan pendapatan. Kami hanya bertahan hidup mengandalkan tabungan yang ada,” ucapnya.

Lihat juga...