‘Hybrid Event’ dan ‘Virtual Tourism’ Alternatif Wisata di Tengah Pandemi

Editor: Makmun Hidayat

BANDUNG — Di tengah kungkungan pembatasan sosial, Dinas Pariwisata Budaya Kabupaten Bandung sama sekali tak patah arang. Mereka tetap optimis dengan menghadirkan acara hybrid dan virtual event untuk bisa tetap memberikan alternatif wisata pada pecinta wisata.

Kabid Promosi dan Ekraf Disparbud Kabupaten Bandung Vena Andriawan, S.STP, MSi menyebutkan ada lebih dari 64 destinasi wisata, baik alam maupun buatan yang ada di Kabupaten Bandung. Belum termasuk hotel dan resto.

“Selama 2020 lalu, memang karena pandemi, ada penurunan signifikan pada jumlah wisatawan. Tercatat ada 1,1 juta wisatawan selama 2020, menurun dari 2019 yang berhasil mencatatkan 2,9 juta wisatawan dan 2018 yang mencatat 2,2 juta wisatawan. Tapi kita tetap optimis, dengan menciptakan acara hybrid dan virtual event, target 2021, yaitu 2 juta pengunjung bisa tercapai,” kata Vena saat dihubungi Cendana News, Minggu (24/1/2021).

Ia menyebutkan, untuk memudahkan wisatawan mendapatkan informasi tentang destinasi wisata Kabupaten Bandung, Disparbud sudah membangun aplikasi.

“Kita sudah punya aplikasi. Namanya BANDUNG EDUN. Aplikasi ini bisa di-download di Playstore untuk mendapatkan informasi lengkap tentang kepariwisataan Kabupaten Bandung,” tuturnya.

Dan ia juga menyebutkan, dengan bekerja sama dengan komunitas, pihak Disparbud sudah menyusun Calendar of Event 2021.

“Jadi Disparbud yang menyediakan infrastrukturnya dan komunitas yang menyediakan marketnya. Untuk Januari dan Februari ini memang belum ada event, karena masih PPKM. Kita akan mulai paska Lebaran 2021 nanti,” ungkapnya.

Kabid Promosi dan Ekraf Disparbud Kabupaten Bandung Vena Andriawan, S.STP, MSi dengan latar belakang perkebunan teh di Kabupaten Bandung, saat dihubungi, Minggu (24/1/2021). -Foto Ranny Supusepa/Dok. Vena

Vena menyatakan, walaupun sudah dilakukan promosi secara online tapi Disparbud Kabupaten Bandung juga tetap melakukan promosi offline.

“Jadi tetap ada offline-nya, berupa event. Anggaran kita itu dibawah Rp700 juta. 70 persennya untuk offline dan 30 persen online,” urai Vena.

Untuk online, lanjutnya, kegiatannya terkait paid media, memiliki website sendiri, mengembangkan sosial media dan bekerja sama dengan endorser membentuk komunitas influencer Kabupaten Bandung dan Pemuda Penggerak Pariwisata yang berbasis digital.

“Promosi ini bukannya tidak ada kendala. Yaitu pada sarana dan prasarana, misalnya peralatan untuk pembuatan bahan baku promosi di sosmed, dan masalah human resources. Pada fasilitas, ada masalah pada lebar jalan. Ini sudah kami konfirmasikan pada pihak terkait, tapi belum ada progres baik dari pusat maupun provinsi,” ungkapnya.

Terkait event, ia menjelaskan, program akan disusun menyesuaikan kondisi dari pembatasan akibat pandemi ini.

Hybrid event dan virtual tourism akan menjadi pilihan sebagai bentuk penyesuaian dalam kondisi pandemi. Misalnya, konser musik terbatas dengan penerapan prokes dan live di sosmed,” ujarnya.

Virtual tourism sendiri, lanjutnya, sudah mulai dilakukan. Salah satunya adalah program Salasa Jarambah.

“Salasa Jarambah ini bahasa Sunda. Artinya menjelajah di hari Selasa. Jadi, kami bekerja sama dengan tourism influencer untuk melakukan kegiatan jelajah destinasi wisata, yang akan disiarkan live maupun tapping di sosmed. Untuk mendapatkan info lengkap bisa cek di website kita saja,” pungkasnya.

Lihat juga...