Ini Alasan Industri EBT Sulit Berkembang

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Industri Energi Baru Terbarukan (EBT) dinyatakan sulit untuk mencapai target. Karena tidak bisa bersaing dengan harga energi fosil. Selain itu, bahan bakunya pun mayoritas masih impor.

Akademisi Universitas Indonesia Prof. Akhmad Syakhroza menjelaskan alasan industri EBT Indonesia sulit berkembang dalam diskusi online energi, Selasa (26/1/2021) – Foto Ranny Supusepa

Akademisi Universitas Indonesia Prof. Akhmad Syakhroza menyatakan dalam mengembangkan EBT dibutuhkan tiga poin, yang tidak bisa terpisah. Yaitu renewable, competitive dan berkelanjutan.

“Engineer Indonesia sangat bagus dalam membuat sesuatu namun kurang bagus dalam daya saing, tidak kompetitif dari segi harga dan tidak berkelanjutan,” kata Syakhroza dalam diskusi online energi, Selasa (26/1/2021).

Ia bahkan menyatakan industri EBT Indonesia seperti lucu-lucuan belaka.

“Bangun sesuatu tapi kecil. Harga tidak bersaing. Akhirnya minta subsidi. Kalau cuma bisa bikin tapi tidak kompetitif, sama saja dengan Balai Latihan Kerja,” ungkapnya.

Misalnya, seperti minyak jarak. Ia menyebutkan sudah dibuat teknologinya. Tapi tidak dipikirkan daya saing dan keberlanjutannya.

Indonesia dinyatakan sebagai negara yang kaya dengan sumber daya berpotensi energi. Ada air, geothermal, laut untuk arus laut dan bawah laut, Matahari, tanaman dan sampah.

“Misalnya pembangkit solar, bahan bakunya masih impor,” kata Syakhroza.

Kebijakan energi Indonesia ini masih tidak jelas, lanjutnya. Semua pengembangan EBT menghasilkan produk dengan harga mahal dan akhirnya PLN harus mengambilnya dengan terpaksa.

“Mahal, karena kita bikinnya kecil-kecil. Geothermal misalnya. Cadangan 15 G, yang proven 5 G tapi yang terpakai hanya 40 persen. Harusnya itu dioperasikan semuanya, walaupun tidak bisa 100 persen, misalnya hanya 95 persen tapi harga kan bisa turun hingga 7 sen. Jadi bisa dibeli PLN tanpa harus subsidi,” paparnya.

Ia menyatakan memang membutuhkan biaya yang tidak kecil dan waktu untuk membangun infrastruktur untuk pengembangan EBT skala besar.

Selain itu, Syakhroza menyebutkan pembangunan EBT sebaiknya dilakukan per wilayah.

“Biaya distribusi bisa ditekan. Biaya infrastruktur juga menjadi murah,” ujarnya lagi.

Atau, bisa dibangun pemanfaatan energi gabungan. Misalnya air, angin dan solar dalam satu lokasi sehingga hasil listriknya besar dan harganya murah. Yang terakhir, jangan hanya bergaul dengan satu disiplin ilmu.

“Sehingga bisa dapat tambahan informasi dan perspektif baru terkait teknologi yang sedang dikembangkan,” pungkasnya.

Lihat juga...