Inilah Kisah Kapten Didik Gunardi, Penumpang Sriwijaya Air

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BEKASI – Kapten Didik Gunardi (49) pilot Nam Air, yang diketahui menjadi salah satu penumpang Sriwijaya Air SJ 1182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu dengan tujuan Pontianak merupakan warga Mustikajaya, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Selama ini Didik bersama keluarganya tinggal di Pedurenan, Kelurahan Mustikajaya, Blok A 8, Nomor 53 RT 08/19. Istrinya merupakan mantan pramugari Merpati. Didik sendiri asli dari Kabupaten Pekalongan, Desa Srinahan, Kesesi.

“Adik saya, memiliki lima orang anak empat perempuan dan bungsu nomor lima laki-laki. Umur anaknya yang paling kecil 2,5 tahun sekarang,” ungkap Enda Gunawan (57) kakak kandung Kapten Didik, saat ditemui di Bekasi, kepada Cendana News, Selasa (12/1/2021).

Enda Gunawan, kakak tertua Kapten Didik Gunardi, perwakilan keluarga dari Pekalongan saat berada di Kota Bekasi, Selasa (12/1/2021) – Foto: Muhammad Amin

Kejadian naas Sriwijaya Air pada Sabtu 9 Januari tersebut, juga tepat pada hari lahir Didik Gunardi 9 Januari  49 tahun lalu.

Dikatakan, bahwa keluarga besarnya tidak memiliki firasat apa pun. Hanya diakuinya ibu gelisah, memikirkan adik bungsu  sebelum peristiwa Sriwijaya Air terjadi.

Enda sendiri mengaku, terakhir bertemu adik bungsunya tersebut sebelum pandemi. Selama ini hanya komunikasi melalui whats app, saling mengingatkan protokol kesehatan atau hal lainnya.

Selama ini, dikatakan, dalam keluarga hanya Didik Gunardi yang berkarir di penerbangan. Ia sejak tahun 1991 sudah dikirim ke New Zealand beasiswa dari Merpati. Saat itu Didik masih kuliah semester satu di Akademi Penerbangan Yogyakarta.

“Karena yang menyekolahkan Merpati, maka sejak tahun 1993 dia ditarik ke Merpati. Awalnya ia hanya ikut penerbangan perintis pesawat kecil-kecil di wilayah Indonesia Timur,” kisah Enda.

Hingga akhirnya Merpati tutup, dan Didik tetap berkantor sambil menunggu kejelasan.  Ia juga sempat menganggur selama dua tahunan sebelum ditarik ke Nam Air menjadi pilot yang juga masih anak perusahaan Sriwijaya Air.

“Hari kejadian naas tersebut, Didik dijemput dari Bekasi oleh kendaraan karyawan. Ia memang tinggal di Bekasi jika tidak terbang,” ucap Enda.

Atas kejadian tersebut sebagai kakak tertua, dia hanya bisa berdoa. Tuhan berkehendak lain maka harus ikhlas apa yang terjadi.

“Harapan keluarga pada pemerintah, Basarnas, relawan semua yang bertugas di Kepulauan Seribu, semoga bisa cepat menemukan semua jasad. Begitu pula dengan serpihan pesawat supaya semakin cepat pula tanggung jawab yang diemban para relawan dan tim Basarnas,” harapnya.

Terlihat di lokasi rumah Kapten Didik Gunardi, sederet karangan bunga berdatangan. Bahkan ada ucapan belasungkawa dari Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Lihat juga...