Iran Besiap Memulai Vaksinasi COVID-19 Secara Massal

Presiden Iran, Hassan Rouhani, berpidato di hadapan masyarakat di Yazd, Iran, Minggu (10/11/2019) – Foto Dok Ant

DUBAI – Presiden Iran, Hassan Rouhani mengatakan, vaksinasi massal di negaranya akan berlangsung pada beberapa minggu ke depan. Dalam pidatonya, Rouhani menyatakan, vaksin buatan asing masih dibutuhkan, sampai vaksin buatan dalam negeri tersedia.

Namun demikian, ia tidak menyebut asal perusahaan pembuat vaksin. Pidato Rouhani itu disiarkan oleh televisi nasional, saat kasus kematian akibat COVID-19 di Iran turun ke titik terendah sejak lebih dari tujuh bulan terakhir. Beberapa pejabat terkait juga mengumumkan tidak ada lagi kota merah atau area yang berisiko tinggi di Iran.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, awal bulan ini melarang pemerintah mengimpor vaksin COVID-19 dari Amerika Serikat dan Inggris. Menurut Khamenei, dua negara itu kemungkinan berupaya menyebarkan virus ke negara-negara lain. Rouhani, yang mengikuti larangan Khamenei mengatakan, pemerintah akan membeli vaksin buatan negara-negara asing yang aman.

Iran, memulai uji klinis vaksin buatan dalam negeri akhir bulan lalu. Menurut otoritas setempat, vaksin itu akan membantu pemerintah mengendalikan penyebaran COVID-19 di tengah berbagai hambatan impor akibat sanksi ekonomi Amerika Serikat. “Ada beberapa kemajuan pada vaksin buatan luar negeri dan dalam negeri,” kata Rouhani.

Ada tiga vaksin buatan Iran, Barekat, Pasteur, dan Razi, yang akan mulai diuji coba pada musim semi dan musim panas tahun ini. Beberapa vaksin itu dibuat lewat kerja sama dengan pihak asing. Otoritas di Kuba pada awal Januari meneken perjanjian dengan Iran, untuk alih teknologi pengembangan vaksin. Kuba juga akan menggelar uji klinis tahap terakhir pada vaksinnya di Iran.

Iran dan Kuba merupakan dua negara yang kena sanksi AS, sehingga keduanya kerap kesulitan untuk membangun hubungan dagang dengan perusahaan farmasi asing. Walaupun demikian, Iran bergabung dalam skema pengadaan vaksin global, COVAX, yang bertujuan mengamankan persediaan vaksin untuk negara-negara miskin.

Data Pemerintah Iran menunjukkan, hampir 1,37 juta orang terserang COVID-19 dan 57.300 di antaranya meninggal dunia. Namun dalam beberapa minggu terakhir, kasus positif baru mulai turun. “Jumlah korban jiwa juga turun dalam waktu 24 jam terakhir dari 69 jadi 24 orang pada Sabtu (23/1/2021),” kata Kementerian Kesehatan. Angka itu merupakan kasus kematian terendah sejak 5 Juni 2020. “Kami dapat mengumumkan hari ini tidak ada lagi kota merah di Iran,” kata juru bicara satuan tugas khusus COVID-19 Iran, Alireza Raisi. (Ant)

Lihat juga...