Jumlah Pengguna Bus Pariwisata di Lamsel, Menurun

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Pelaku jasa transportasi pariwisata mengalami penurunan jumlah pesanan selama libur panjang Natal dan Tahun Baru. Penurunan tersebut makin terlihat setelah pemerintah kota Bandar Lampung, Kabupaten Lampung Selatan, menutup objek wisata untuk sementara waktu.

Sukarno, pengemudi bus pariwisata di terminal eksekutif Bakauheni menyebut pesanan bus carteran menurun. Normalnya, bus dengan kapasitas 30 penumpang dicarter untuk antar jemput wisatawan. Pesanan jasa antarjemput untuk kunjungan ke objek wisata yang ada di Lampung, di antaranya pulau Pahawang, Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Menara Siger dan sejumlah objek wisata pantai. Sebagai solusi, bus digunakan untuk angkutan penumpang umum.

Menurut Sukarno, penurunan jumlah wisatawan pengguna jasa bus pariwisata sudah berlangsung sejak pandemi Covid-19 melanda. Ia masih tetap bisa melayani wisatawan yang datang dari pulau Jawa ke Sumatra. Sejak masa kenormalan baru (new normal), ia bisa melayani wisatawan dengan sistem paket. Kerja sama dilakukan dengan agen perjalanan wisata.

Ivan Rizal, Ketua DPC Organda Lampung Selatan, Minggu (3/1/2021). -Foto: Henk Widi

“Semula kami bekerja sama dengan agen perjalanan wisata, namun karena jumlah kunjungan wisatawan berkurang, penggunaan fasilitas bus mulai beralih ke kendaraan yang lebih kecil berupa travel untuk efesiensi, sehingga bus yang akan digunakan mulai sepi peminat untuk kegiatan pariwisata,” terang Sukarno, saat ditemui Cendana News di terminal eksekutif Bakauheni, Minggu (3/1/2021)

Meski objek wisata telah dibuka, Sukarno menyebut belum mampu mendongkrak pesanan. Peralihan fungsi bus pariwisata yang berada di bawah naungan Organda Lamsel menjadikan bus tetap beroperasi. Bus pariwisata digunakan olehnya untuk melayani penumpang kapal dari Merak tujuan terminal Rajabasa. Ia juga berharap, sektor pariwisata akan berdampak positif bagi sektor transportasi.

Ivan Rizal, Ketua DPC Organda Lamsel, menyebut strategi jasa tranportasi pariwisata telah dilakukan sejak awal pandemi Covid-19. Pengalihan kendaraan pariwisata untuk angkutan umum trayek terminal Bakauheni menuju terminal Rajabasa untuk menutupi biaya operasional. Setiap hari, 16 unit bus dioperasikan, sebagian merupakan bus pariwisata melayani terminal eksekutif.

“Bus pariwisata yang disediakan semula ikut mendukung pengembangan destinasi wisata terintegrasi di Bakauheni, namun terhambat pandemi,” beber Ivan Rizal.

Ivan Rizal bilang, pengembangan objek wisata Bakauheni dilakukan oleh PT Hutama Karya (HK) dan Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC). Terhantam pandemi Covid-19, sejumlah rencana pengembangan sempat terhambat. Penyiapan armada transportasi sekaligus ikut terganggu dengan jumlah kunjungan wisatawan yang berkurang.

Suwito, petugas di loket tiket objek wisata Menara Siger menyebut destinasi tersebut tetap dikunjungi. Sempat ditutup, sejumlah wisatawan datang memakai kendaraan bus pariwisata, kendaraan pribadi dan motor. Jumlah pengunjung yang menurun terlihat dari data kendaraan yang masuk ke Menara Siger. Rata-rata per hari pengunjung hanya mencapai puluhan kendaraan dan ratusan orang.

Pengunjung didominasi oleh wisatawan yang akan menunggu naik ke kapal. Penerapan tiket online dengan reservasi dua jam sebelum keberangkatan, mendorong wisatawan memilih berhenti di Menara Siger. Sebelumnya, kunjungan memakai bus pariwisata kerap berasal dari Jakarta, Sumatra Selatan, namun kini didominasi wisatawan lokal Lampung.

“Penyumbang kunjungan wisata karena adanya destinasi pantai Minang Rua, Pematang Sunrise yang juga berkunjung ke Menara Siger,” bebernya.

Suwito juga menyebut, bekerja sama dengan pelaku jasa transportasi wisata. Cara yang dilakukan dengan mengarahkan wisatawan menuju ke objek wisata Menara Siger. Namun, imbas penurunan jumlah pelaku perjalanan, kapasitas penumpang pada bus pariwisata berkurang. Wisatawan yang berkunjung tetap menerapkan protokol kesehatan.

Lihat juga...