Kebakaran Hutan dan Galian Tanah di Waigete Rusak Lingkungan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) setiap tahun selalu mengalami berbagai persoalan mengenai lingkungan hidup yang sering berujung pada bencana, baik banjir maupun kekeringan.

Fakta tentang persoalan lingkungan di Kecamatan Waigete misalnya kebakaran hutan lindung Egon Ilimedo yang terjadi beberapa kali dalam tahun 2019 dan tahun 2020.

“Kebakaran yang terjadi setiap tahun ini berakibat pada berkurangnya vegetasi penutup tanah, baik perdu maupun tegakan,” kata Carolus Winfridus Keupung, mantan Direktur WALHI NTT, saat dihubungi Cendana News, Rabu (13/1/2021).

Mantan Direktur WALHI NTT, Carolus Winfridus Keupung, saat ditemui di kantor Wahana Tani Mandiri (WTM) di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Rabu (30/12/2020). Foto: Ebed de Rosary

Win, sapaannya, mengatakan, penebangan kayu baik secara legal maupun ilegal, seperti yang terjadi di hutan lindung Egon Ilimedo di Kecamatan Waigete, sangat berpengaruh terhadap tingkat resapan air ke dalam tanah.

Ia mengatakan, semakin banyak pohon yang ditebang maka akan semakin berkurang pula air yang diresapkan ke dalam tanah.

Selain itu, ia menyoroti penambangan pasir dan batu di Waigete. Dia sebutkan, penambangan ini dilakukan secara masif oleh beberapa perusahaan yaitu PT Bumi Indah, PT Egon Perkasa, PT Kompak Indah, PT Nusa Tenggara Jaya dan PT CRI.

“Akibat dari masifnya penambangan ini, mengakibatkan rusaknya lingkungan di beberapa lokasi khususnya Desa Egon dan Desa Mahe Kelan. Kelima perusahaan tersebut mengeruk kali dan bukit untuk diambil batu dan pasir,” ucapnya.

Win menegaskan, dampaknya adalah terjadi luapan air dari lokasi penambangan sampai terjadi banjir bandang sebab air mengalir serampangan menerjang pemukiman.

Menurutnya, sebenarnya hal ini sudah diprotes warga Waigete karena mereka paham bahwa penggalian pasir  membawa dampak buruk terhadap kehidupan masyarakat Waigete.

“Namun hal ini berbeda dengan sikap pemerintah yang memberi izin. Kepentingan masyarakat berbeda dengan kepentingan pemerintah dan perusahaan serta investor,” ungkapnya.

Sementara itu, Andreas Nong, salah seorang warga Desa Egon, Kecamatan Waigete yang ditanyai membenarkan terjadinya pengambilan material oleh beberapa perusahaan di Kecamatan Waigete.

Andreas mengatakan, akibat pengambilan material mengakibatkan terjadi lubang-lubang, saat hujan maka lubang-lubang tersebut terisi air dan berpotensi terjadi banjir.

“Kami khawatirkan bila terjadi hujan maka  berpotensi terjadi banjir bandang. Karena air yang tergenang di dalam lubang-lubang bekas tambang meluap apabila sudah penuh,” ucapnya.

Lihat juga...