Kota Semarang Masih Terapkan Pembelajaran Secara Daring

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Kota Semarang, Solo serta Kabupaten Banyumas, menjadi tiga wilayah di Jateng, yang akan memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), pada 11 – 25 Januari 2021. Hal ini sesuai kebijakan pemerintah pusat, dalam upaya pencegahan penyebaran covid-19 agar tidak semakin meluas.

Penerapan PSBB tersebut pun, berimbas terhadap berbagai sektor, termasuk di bidang pendidikan.

“Saat ini Kota Semarang, masih menerapkan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM), sejak pertama kali diterapkan, hingga saat ini, pembelajaran di sekolah untuk jenjang PAUD, TK, SD hingga SMP, semuanya dilakukan secara daring atau online. Apalagi sekarang ada kebijakan PSBB dari pemerintah pusat,” papar Walikota Semarang, Hendrar Prihadi saat ditemui di Balaikota Semarang, Kamis (7/1/2021).

Kini seiring dengan kebijakan PSBB, yang disampaikan pemerintah pusat, pihaknya juga memastikan pembelajaran tatap muka (PTM) belum akan dilakukan.

“Proses belajar mengajar di sekolah TK, SD dan SMP di Kota Semarang selama kondisi darurat pandemi ini masih menerapkan sistem belajar daring atau online. Ini juga sesuai dengan perwal (peraturan walikota-red) yang sudah ada, mengenai PKM,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Gunawan Saptogiri menjelaskan, jika sebelumnya pihaknya sudah merencanakan akan mulai menggelar PTM secara bertahap pada Januari 2021, kini kebijakan tersebut dipastikan diundur.

“Pelaksanaan PTM ini, sesuai dengan kebijakan dari kepala daerah apakah mengizinkan atau tidak, hal ini sesuai dengan SKB empat menteri sebelumnya. Jika melihat kondisi sekarang, lalu adanya kebijakan PSBB, tentu pelaksanaan PTM belum dimungkinkan untuk dilakukan,” terangnya.

Di sisi lain, meski pelaksanaan PTM saat ini ditunda, namun pihaknya memastikan satuan pendidikan di Kota Semarang sudah siap, jika sewaktu-waktu izin PTM diberikan.

Nantinya, dalam pelaksanaan PTM Kuota per kelas selama PTM akan dibatasi, maksimal 50 persen. Saat ada siswa yang masuk kelas dengan mengikuti PTM, sebagian siswa lainnya tetap dirumah, dengan mengikuti pembelajaran secara daring atau online.

Untuk mekanisme, penentuan siswa yang masuk kelas atau di rumah, pihaknya menyerahkan ke masing-masing sekolah. “Namun paling mudah dengan sistem ganjil genap sesuai nomor urut absen siswa. Selain itu, durasi pembelajaran maksimal 2-3 jam tanpa ada istirahat,” tambahnya.

Sebelum PTM diberlakukan, para siswa dan guru, juga akan melakukan rapid test terlebih dulu. Untuk memastikan bahwa kondisi mereka ini sehat. Pengawasan juga dilakukan selama siswa di sekolah hingga saat pulang. Termasuk dari segi transportasi dari rumah ke sekolah dan sebaliknya.

Lihat juga...