Legit Wajik Ketan yang Mulai Tergerus Zaman

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Wajik adalah salah satu makanan tradisional Indonesia berbahan ketan yang sekarang mulai jarang terlihat di pasaran. Bukan karena sulit membuatnya, tapi lebih karena sudah banyak alternatif pengembangan makanan berbahan dasar ketan. Padahal membuat wajik, sangat mudah dan tidak membutuhkan biaya besar.

Pegiat kuliner Ina Farida menyatakan wajik merupakan makanan yang dimiliki berbagai daerah Indonesia dengan kekhasannya masing-masing. Misalnya, ada wajik Bandung yang dicampur dengan parutan kelapa dan dibungkus dengan kertas minyak. Atau ada jenis wajik Klethik, yang berasal dari Blitar yang dibungkus dengan klobot (kulit jagung).

“Tapi yang paling umum adalah wajik ketan manis. Bahannya beras ketan yang dicampur dengan gula merah dan santan. Warnanya mulai coklat merah gelap hingga terang, bergantung pada jenis gula merah yang dipergunakan,” kata Ina saat dihubungi, Sabtu (16/1/2021).

Ina Farida Permana menjelaskan tentang pembuatan wajik dan filosofi wajik, saat dihubungi, Sabtu (16/1/2021) -Foto Ranny Supusepa

Sebelum dimasak, lanjutnya, beras ketan direndam dulu sekitar dua jam. Lalu dikukus selama 45 menit dan sesekali diaduk.

“Rendamnya lebih lama ya lebih bagus. Selama dikukus, sesekali harus diaduk. Untuk memastikan matangnya merata,” ucap Ina.

Selama ketan dikukus, gula merah, santan, pandan dan air dimasak dengan api kecil hingga mendidih dan gula larut, kemudian saring dan masak kembali.

“Saat dimasak kembali, baru gula putih dan vanili dimasukkan. Kalau ketannya sudah matang, masukkan ke dalam larutan gula merah dan aduk terus menerus untuk menghindari lengket di panci. Masak dan aduk hingga seluruh larutan gula merah meresap ke dalam ketan,” ucapnya.

Jika sudah meresap semua, tuangkan ke loyang yang bagian dasarnya sudah diberikan lapisan plastik. “Biarkan hingga dingin dan mengeras. Setelah itu, baru dipotong sesuai selera,” tuturnya.

Potongan wajik yang paling umum, menurut Ina adalah jajaran genjang. Bahkan, karena sangat identiknya, jajaran genjang dengan wajik, seringkali bentuk jajaran genjang disebut dengan wajik.

“Kalau sekarang, sudah semakin jarang ada di pasaran. Anak-anak sekarang juga jarang mengenal wajik. Yang masih sering ditemukan, ya pada acara-acara adat, seperti pernikahan. Karena filosofi wajik yang lengket dan manis dicerminkan pada pernikahan yang lengket dan manis. Dalam artian, menjadi langgeng dan harmonis. Bentuknya sekarang tidak hanya jajaran genjang tapi lebih bervariasi,” pungkasnya.

Lihat juga...