Manfaatkan Teknologi Digital, PPKM Tak Pengaruhi Kualitas Pembelajaran pada PT

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di Kota Semarang, dinilai tidak berpengaruh pada kualitas pembelajaran pada perguruan tinggi. Terlebih, saat ini ada banyak teknologi digital, yang bisa dimanfaatkan sebagai alat penyampaian materi.

“Kebijakan PSBB atau PPKM, yang mulai diberlakukan 11-25 Januari 2021, kita nilai wajar, sebagai upaya pencegahan penyebaran covid-19. Di satu sisi, meski adanya pembatasan termasuk ketentuan work from office (WFO) hanya 25 persen, namun hal tersebut tidak berpengaruh pada layanan perguruan tinggi,” papar pengamat pendidikan sekaligus Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Prof Dr Masrukhi MPd, saat ditemui di kampus tersebut, Semarang, Kamis (14/1/2021).

Dipaparkan, di tengah pandemi covid-19, yang mengharuskan untuk mengurangi kegiatan secara tatap muka, teknologi digital yang ada sudah berkembag, sehingga bisa dimanfaatkan untuk menjembatani kebutuhan.

“Kita beruntung pandemi covid-19 terjadi pada era digital, sehingga kuliah bisa tetap berjalan, penyampaian materi dari dosen ke mahasiswa juga bisa tersampaikan dengan baik. Ujian-ujian bisa dilakukan secara daring, termasuk juga rapat, sumpah dokter hingga wisuda, semua bisa berjalan. Hanya saja dilakukan secara daring atau online, dan itu tidak mengurangi substansi kegiatan yang sesungguhnya,” lanjut Prof Masrukhi.

Namun hal berbeda terjadi jenjang pendidikan dasar dan menengah (dikdasmen), yang meliputi jenjang SD, SMP, SMA serta SMK sederajat. Dipaparkan, dari survei yang dilakukannya di sejumlah sekolah, terutama jenjang SMA, dalam pembelajaran daring yang dilakukan, keikutsertaan siswa hanya sekitar 36-40 persen.

“Dari angka keikutsertaan tersebut, juga perlu diteliti mana yang belajar sungguh-sungguh, mana yang sekedar ikut atau absen saja. Jadi memang di tingkat disdakmen, sesuai perkembangan psikologisnya masih banyak siswa, yang belum sadar akan perlunya pembelajaran secara daring, namun jika di tingkat mahasiswa sudah muncul,” tambahnya.

Hal senada juga disampaikan Rektor Universitas PGRI Jateng (UPGRIS) Dr Muhdi SH MHum. Dipaparkan, kebijakan PPKM memang berpengaruh pada kegiatan atau aktivitas di kampus, namun secara umum tidak berimbas pada penyampaian materi pembelajaran kepada mahasiswa.

“Teknologi saat ini sudah sangat membantu, dalam upaya penyampaian materi kepada mahasiswa, sehingga bisa dilakukan secara online. Termasuk juga pada kuliah praktikum, meski tidak seoptimal jika dilakukan secara tatap muka, namun sejauh ini, masih bisa ditoleransi melalui penyampaian melalui daring,” terangnya.

Meski demikian, dirinya juga berharap kedepan ada penggabungan antara pembelajaran daring dan tatap muka atau blended learning.

“Sebenarnya blended learning ini sudah diperkenalkan sejak dulu, namun belum banyak yang menerapkannya. Kini seiring dengan adanya pandemi, kita harapkan pembelajaran bisa dilakukan secara tatap muka dan virtual atau online,” terangnya.

Muhdi juga menegaskan, jika saat ini pembelajaran masih dilakukan secara daring, kedepannya juga perlu disiapkan agar bisa secara tatap muka. “Tentu ada persyaratan yang harus dipenuhi, termasuk sarana prasarana misalnya tempat cuci tangan, penggunaan thermogun, konsep pembelajaran tatap muka yang aman, penerapan prokes dan lainnya,” tambahnya.

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua PGRI Jateng tersebut, juga mendorong penyiapan pembelajaran tatap muka (PTM) di jenjang dikdasmen. “Jika memang memungkinkan, kita dorong untuk blended di tingkat dikdasmen. Sebab kondisi saat ini, dengan pembelajaran daring, atau disebut belajar dari rumah (BDR), ada juga pembelajaran jarak jauh (PJJ), untuk tingkat dikdasmen tidak efektif,” ungkapnya.

Contohnya di jenjang SD, yang dalam penyampaian materi BDR atau PJJ harus didampingi oleh orang tua siswa atau wali. “Sementara, orang tua atau wali siswa tersebut, memiliki kesibukan tersendiri sehingga tidak bisa mendampingi. Mereka harus bekerja dan lainnya, akibatnya BDR untuk siswa SD tidak bisa dilakukan. Jadi seolah siswa sekarang ini libur sekolah, padahal tidak. Jadi ini yang perlu menjadi perhatian juga,” pungkasnya.

Lihat juga...