Menikmati Enaknya Jagung Rebus di Pertigaan Aegela

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MBAY – Sepanjang perjalanan jalur trans selatan Flores hanya beberapa wilayah yang terdapat penjual makanan dan minuman termasuk jagung muda yang setiap saat tersedia.

Pertigaan Aegela yang berada persis di jalan trans Flores di Kabupaten Nagekeo menuju ke Kota Mbay ibu kota Kabupaten Nagekeo, selalu dijumpai penjual jagung muda rebus.

“Setiap hari kami selalu menjual jagung muda di tempat ini,” kata Yohana warga Desa Bidoa, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, NTT saat ditemui di Pertigaan Aegela, Selasa (12/1/2021).

Mama Yohana, salah seorang penjual jagung rebus dan aneka makanan dan minuman di pertigaan Aegela, samping jalan negara trans Flores di Kabupaten Nagekeo, NTT saat ditemui di lapak penjualannya, Selasa (12/1/2021). Foto: Ebed de Rosary

Mama Yo sapaannya, mengaku, menjual jagung muda rebus dua jenis yakni jagung berwarna putih dan kuning dengan harga 3 buah Rp10 ribu.

Ia sebutkan, dalam sehari bisa laku terjual Rp100 ribu hingga Rp150 ribu saat musim panas dan pendapatan bisa berkurang setengahnya apabila sedang musim hujan.

“Jagung saya rebus dan taruh di dalam termos agar tetap panas. Kalau sudah habis baru direbus lagi, sebab kami juga siapkan kompor di lapak untuk merebus jagung dan membuat kopi bagi para pengendara yang mampir,” ucapnya.

Menurut Yohana, selain berjualan jagung rebus ada juga jagung muda yang belum direbus dan dijual dengan harga yang sama 3 buah Rp10 ribu.

Jagung yang dijual diakuinya, diperoleh dari para petani di Kota Mbay Nagekeo dengan harga 4 buah Rp10 ribu dan setiap saat stok tersedia termasuk saat musim panas.

“Saya juga menjual mangga masak Rp10 ribu 3 buah, jeruk, salak, telur rebus, keripik singkong, jagung goreng dan aneka minuman lainnya. Dalam sehari bisa mengantongi pendapatan minimal Rp200 ribu,” ucapnya.

Sementara itu, Sisilia salah seorang penjual lainnya mengaku, sejak terjadinya wabah Corona penjualannya menurun drastis.

Ia sebutkan, biasanya dalam sehari bisa mengantongi pendapatan hingga Rp300 ribu bila berjualan dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore. Tetapi saat ini hanya meraih pemasukan Rp100 ribu sehari.

“Paling sehari bisa mengantongi keuntungan bersih Rp50 ribu hingga Rp100 ribu. Sebelum ada wabah Corona jalan trans Flores banyak dilintasi kendaraan sehingga pemasukan kami bisa dua kali lipat,” tuturnya.

Meski begitu kata Sisilia, dirinya bersama sekitar 20 pedagang tetap berjualan di samping jalan negara ini, guna menambah penghasilan keluarga selain hasil pertanian.

Lihat juga...