Menilik Bangunan Tua Saksi Sejarah Kampung Melayu di Semarang

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Menyusuri jalanan di Kampung Melayu Kota Semarang, layaknya kawasan wisata Kota Lama, masih ditemukan beberapa bangunan tua peninggalan era Kolonial Belanda. Bangunan-bangunan bersejarah tersebut masih tetap berdiri hingga sekarang, meski kondisinya banyak yang kurang terawat.

Salah satunya, bangunan tua yang terletak persis di sudut jalan Kampung Melayu, tepatnya Jalan Layur No. 121, yang lebih dikenal sebagai bangunan Studio Foto Seni Gerak Cepat. Papan nama tersebut, terlihat mencolok karena dibuat dengan ukuran besar.

Nurul Hidayah binti Ali Machroos, penghuni rumah, menunjukkan plakat cagar budaya yang tersemat di tembok bangunan, Minggu (3/1/2021). -Foto: Arixc Ardana

Sebuah plakat marmer bertuliskan Nomor D 34, berdasarkan keputusan Wali Kota Semarang Nomor 646/50/Tahun 1992, menyatakan jika bangunan sebagai tempat tinggal di jalan Layur 121 tersebut, merupakan bangunan cagar budaya.

“Dulu, bangunan ini digunakan sebagai rumah tinggal, kemudian jadi gudang. Namun, siapa persisnya yang dulu tinggal di sini saya tidak paham. Namun, yang jelas umurnya sudah ada sekitar 200 tahun,” papar Nurul Hidayah binti Ali Machroos, penghuni rumah tersebut, saat ditemui, Minggu (3/1/2021).

Dipaparkan, jika menilik dari segi arsitektur, bangunan tersebut mengusung gaya tradisional Tiongkok dan Belanda. Karakteristik paling terlihat dari penggunaan kerangka kayu, sementara tembok menjadi pemisah antarruang, bukan untuk menahan beban keseluruhan rumah. Penggunaan jendela dengan desain yang indah dan pola-pola bunga, pada tiang-tiang kayu menjadi ciri lainnya.

“Selain itu, ukuran jendela juga besar-besar, seperti bangunan di kawasan Kota Lama, hanya saja di wilayah ini sering terjadi rob. Jadi mesti diuruk tanah, agar tinggi sehingga air tidak masuk. Akibatnya, tinggi bangunan jadi berkurang,” terangnya.

Nurul menunjukkan pilar kayu jati yang ada di tengah ruangan. Ada empat pilar yang digunakan untuk menyangga papan lantai dua. Kesemuanya terbuat dari kayu jati. Kini tinggi pilar tersebut hanya tersisa 3/4, sementara 1/4 bagian lainnya sudah terpendam tanah urug. Meski demikian, ketinggian pilar tersebut masih tersisa sekitar tiga meter.

“Jadi dulu dalam ruangan ini lebih tinggi. Saya masih ingat dulu menempati rumah ini, sekitar 1970-an, saat saya masih TK. Kurang lebih 50 tahun yang lalu,” paparnya.

Beberapa tembok di sudut ruangan bangunan Belanda bergaya arsitektur Cina itu juga mulai runtuh. Kayu dan papan jati yang ada di lantai dua juga mulai termakan usia, meski diakui Nurul masih dimanfaatkan sebagai ruang tidur.

Sementara di sudut bangunan, beberapa tumbuhan juga dibiarkan tumbuh merayap di sela-sela tembok yang batu batanya mulai nampak tergerus dan terkelupas lapisan semennya.

”Untuk membangun rumah ini tidak diperbolehkan, karena ini bangunan cagar budaya. Selain itu biayanya juga mahal, paling saya perbaiki hal-hal yang kecil, yang tidak mengubah bentuk dan isi bangunan. Semuanya ini masih asli, termasuk pilar, lantai kayu dan lainnya,” terangnya.

Uniknya, Nurul hanya berstatus sebagai penyewa bangunan, karena bangunan dan lahan tersebut merupakan wakaf Yayasan Al Irsyad, pengelola Masjid Layur Semarang yang jaraknya hanya sepenggalan dari rumah tersebut.

“Jadi awalnya yang menyewa ayah saya, Ali Machroos, kemudian dilanjutkan oleh kakak, baru saya. Tiap bulan kita bayar sewa, istilahnya uang kunci,” lanjut ibu tiga anak tersebut.

Di satu sisi, bangunan tua berlantai dua tersebut menjadi saksi bisu sejarah dari era Kolonial Belanda hingga Kemerdekaan. Termasuk saksi atas kisah kehidupan warga Kampung Melayu yang multietnik.

“Sebenarnya kalau mau disebut kawasan Kota Lama, ya daerah ini, kalau yang sekarang dikenal itu kan kawasan pemerintahan zaman dulu, kalau kampung Semarang Lama ya wilayah ini,” jelas Nurul.

Ucapannya sepenuhnya benar. Hal tersebut dibuktikan dengan penetapan Kemendikbud, bahwa Kota Lama Semarang, Kampung Melayu, Kampung Arab, dan Pecinan, menjadi warisan Cagar Budaya Nasional.

Penetapan tertanggal 9 Agustus 2019 tersebut, menyebutkan Kota Semarang memiliki banyak keunikan. Tidak hanya sebatas pada kota tua peninggalan Belanda (Kota Lama-red) saja, melainkan cakupannya lebih luas lagi, termasuk kampung-kampung tua di sekitarnya.

Di lain pihak, bangunan tua tersebut juga menjadi saksi sejarah perkembangan fotografi di Kota Semarang. Itu tidak terlepas dari nama Seni Foto Gerak Cepat yang masih terpasang hingga sekarang, meski usaha tersebut sudah ditutup sejak 10 tahun yang lalu.

“Kawasan Kampung Melayu ini dulu sebagai salah satu sentra perekonomian di Kota Semarang. Banyak orang yang datang, bekerja dan tinggal di sini, dari seluruh Indonesia,” terang Nurul.

Peluang ini yang kemudian dilihat oleh sang ayah, Ali Machroos, dengan membuka studio foto. Layaknya studio foto masa kini, Ali juga melayani beragam permintaan jasa, mulai dari foto KTP atau 3×4, hingga pernikahan.

“Namun, yang paling dikenal karena permintaan foto KTP yang dapat dilayani dengan cepat. Sejam bisa langsung jadi, karena pada saat itu di beberapa studio lain untuk membuat foto KTP perlu waktu beberapa hari baru jadi. Istilahnya, gerak cepat dalam melayani konsumen, dan itu alasan ayah memberi nama studio tersebut,” jelasnya.

Tidak heran jika pelanggannya sangat banyak. Usaha tersebut masih tetap berjalan hingga berpuluh tahun ke depan, namun seiring waktu karena genangan rob yang merendam bangunan itu, studio foto tersebut harus ditutup.

“Saya takut kalau pas rob kena kabel listrik dan lainnya. Jadi daripada berisiko, studio foto tersebut saya tutup, 10 tahun yang lalu. Plang foto tetap saya biarkan terpasang, itu mengingatkan dulu di tempat ini pernah berdiri studio Seni foto Gerak Cepat. Itu juga mengingatkan saya kepada almarhum ayah,” tandasnya.

Cerita sepak terjang studio Seni Foto Gerak Cepat pada masa kejayaannya, juga diamini oleh Chandra AN, salah satu fotografer kawakan di Kota Semarang.

“Ya, dulu merupakan studio foto terkenal di 1970an. Termasuk sejarah fotografi Semarang, tapi sekarang sudah selesai seiring kemajuan teknologi fotografi. Terutama, memasuki dunia digital dan selfphotograph,” paparnya.

Dulu berkat kemampuannya dalam teknik fotografi, terutama dalam seni cetak foto, banyak yang belajar di studio tersebut.

Terlepas dari itu semua, keberadaan bangunan tua tersebut hingga studio Seni Foto Gerak Cepat, turut memberi warna pada sejarah dan budaya Kota Semarang.

Lihat juga...