Meski Harga Stabil Permintaan Daging Sapi di Semarang, Turun

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Berbeda dengan sejumlah wilayah lainnya di Indonesia, seperti Jabodetabek atau Bandar Lampung yang mengalami kenaikan harga daging sapi, hal serupa tidak terjadi di Kota Semarang. Namun meski harga stabil, permintaan daging sapi cenderung menurun.

Dari pantauan harga di pasar tradisional Peterongan Kota Semarang, daging sapi dibanderol Rp110 ribu – Rp120 ribu per kilogram. Harga tersebut relatif sama sejak akhir 2020, lalu.

“Harga masih stabil, kalau pun ada kenaikan hanya Rp5.000 per kilogramnya. Namun meski harga tidak naik tinggi, permintaan dari masyarakat justru menurun, terutama selama Covid-19 ini,” papar pedagang daging sapi, Muntayati, saat ditemui di pasar tersebut, Jumat (22/1/2021).

Sebagai perbandingan, jika sebelum pandemi dirinya mengaku bisa menjual rata-rata 20 kilogram daging sapi per hari, kini jumlah tersebut hanya tinggal separuhnya.

“Mungkin karena masyarakat memilih membeli yang lain, yang lebih terjangkau, soalnya kondisi masih seperti ini, ekonomi serba susah, apalagi sekarang ada PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat-red),” terangnya.

Hal serupa juga disampaikan Anik, pedagang daging sapi lainnya di pasar Peterongan Semarang. Dijelaskan, untuk daging sapi bagian has atau untuk rendang, kualitas bagus dihargai Rp120 ribu per kilogram, sementara untuk daging campur Rp110 ribu per kilogram.

“Harga masih sama seperti tahun lalu, sempat naik sedikit saat akhir tahun jelang Natal dan Tahun Baru, tapi hanya Rp5.000 ribu – Rp10.000 per kilogram,” ungkapnya.

Turunnya permintaan daging sapi juga diakui wanita yang sudah bertahun-tahun berjualan di pasar tradisional tersebut. “Ya, sekarang lebih sepi, mungkin nanti menjelang Imlek bisa naik lagi. Paling-paling sehari 10 kilogram, sebelumnya bisa 15-20 kilogram,” akunya.

Secara umum, penurunan permintaan daging sapi juga disampaikan Ketua Perkumpulan Pengusaha Daging Sapi (PPDS) Kota Semarang, Hery Setiawan. Saat dihubungi, dirinya mengaku saat ini konsumsi daging sapi di Kota Semarang hanya tinggal separuhnya.

“Meski harga stabil, namun permintaan daging sapi menurun drastis. Dari rata-rata per hari sekitar 30 ton, kini hanya tinggal 15 ton per hari. Hal ini terjadi karena dampak pandemi Covid-19, ditambah penerapan PPKM di Kota Semarang,” ungkapnya.

Pembatasan jam operasional usaha, seperti warung makan, restoran hingga pedagang kaki lima (PKL) sangat berimbas pada permintaan daging sapi.

“Saat ini permintaan daging sapi dari hotel, restoran, kafe, berkurang banyak. Begitu pula di pasar tradisional, warteg, bakso, juga berkurang karena jam operasional dibatasi,” katanya.

Sementara terkait pasokan daging sapi, sejauh ini tidak ada persoalan. Herry mengakui, daging sapi tersebut tidak seluruhnya dihasilkan oleh peternak di Kota Semarang, namun juga diambil dari wilayah sekitar.

“Kalau dari Kota Semarang belum mencukupi, jadi kita ambil dari wilayah sekitar yang memiliki peternak sapi cukup banyak, seperti Kabupaten Sukoharjo, Boyolali dan Klaten. Jadi, untuk stok atau ketersediaan daging sapi masih relatif aman,” pungkasnya.

Lihat juga...