Pakar Ingatkan Bahaya Limbah Medis Covid-19

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Selama masa pandemi Covid-19, produksi limbah medis mengalami lonjakan drastis. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memperkirakan, hingga Desember 2020, volume limbah medis telah mencapai 1.986,86 ton.

Kepala Sub Bidang Penanganan Limbah Medis Satgas Covid-19, Lia Partakusuma menekankan agar semua pihak dapat mengelola limbah medis yang disproduksinya dengan benar. Pasalnya, jika itu tidak diperhatikan, maka dapat menghasilkan dampak yang buruk baik bagi lingkungan maupun kesehatan masyarakat.

“Limbah medis (saat ini) bukan hanya yang dilaksanakan di puskesmas, klinik, rumah sakit tapi juga produk dari kegiatan yang kemungkinan berpotensi adanya infeksi Covid-19. Belum lagi ada pasien Covid yang melakukan isolasi mandiri di rumah, ini juga menghasilkan limbah medis. Semua itu harus dipikirkan bagaimana pengelolaannya,” ujar Lia dalam webinar bertajuk Sosialisasi Pengelolaan Limbah Medis, Rabu (27/1/2021).

Menurut Lia, virus Covid-19 atau mikroorganisme nya sendiri tidak lantas hilang begitu saja di limbah medis. Virus-virus tersebut memiliki daya tahan yang bisa membuat mereka hidup dalam waktu yang cukup lama.

“Berdasarkan literatur, virus yang menempel di atas limbah medis kaca bisa tetap hidup selama lima hari, kemudian di permukaan limbah medis kayu empat hari, plastik tiga hari dan limbah kertas satu hari,” kata Lia.

Belum lagi, lanjut Lia, banyak kasus terkait penyalahgunaan daur ulang yang dilakukan secara tidak benar oleh pemulung, yang sangat mudah sekali untuk diperjualbelikan.

“Sekali lagi ini kalau tidak dikelola dengan baik bahaya sekali. Bekas masker misalnya, tinggal disterika saja kemudian dijual Kembali. Sangat bahaya,” tukasnya.

Lia memberikan sejumlah rekomendasi pengendalian resiko limbah medis antara lain, memperkecil faktor bahaya dengan menghindarkan pemisahan limbah medis Covid-19 dengan limbah medis umum. Kemudian melakukan pengendalian teknis, seperti penyiapan fasilitas standar, disinfektan pada setiap penanganan limbah medis.

“Siapkan SOP khusus penanganan limbah medis dan pastikan petugas limbah medis itu dilengkapi dengan Alat Pelindung Diri (APD) yang lengkap,” paparnya.

Sementara itu, Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Vensya Sitohang meminta agar pemerintah daerah dapat bekerjasama dengan baik serta terus meningkatkan komitmennya untuk menyediakan sarana pengelolaan limbah, pendanaan, peningkatan kapasitas petugas.

“Kami juga berharap pemerintah daerah melakukan pencatatan dan pelaporan terkait limbah medis di wilayahnya masing-masing. Sebab belum semua provinsi melaporkan itu,” papar Vensya.

Dan yang jauh lebih penting, sambung Vensya, agar para pemangku kebijakan baik di  pusat, provinsi maupun kabupaten kota melakukan koordinasi yang baik dalam hal pembinaan serta pengawasan penanganan limbah medis.

“Kita tidak ingin ada kasus lagi seperti di beberapa daerah, karena pengelolaan limbah medisnya tidak benar harus berurusan dengan hukum. Oleh karena itu semua harus terkoordinir agar berjalan sesuai SOP dan ketentuan yang disepakati bersama,” pungkas Vensya.

Lihat juga...