Pandemi, Penjualan Suvenir Tempurung Kelapa di Ende Menurun

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Pandemi Corona membuat penjualan suvenir yang menggunakan bahan dari tempurung kelapa seperti gelas dan teko atau cerek di kawasan Taman Nasional Kelimutu menurun drastis.

Sebelum pandemi Corona, dalam seminggu para perajin bisa memperoleh pendapatan minimal Rp500 ribu seminggu namun saat pandemi pendapatan menurun drastis hingga Rp100 ribu bahkan tidak ada penghasilan sama sekali.

“Wisatawan asing tidak ada sama sekali sehingga pendapatan saya menurun drastis bahkan tidak ada pembeli sama sekali,” ungkap Yohanes Robinso Saleh, penjual suvenir di Kawasan Taman Nasional Kelimutu, Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, NTT saat dihubungi Cendana News, Selasa (19/1/2021).

Yohanes R Saleh, perajin dan penjual aneka kerajinan berbahan tempurung kelapa di kawasan Taman Nasional Kelimutu, Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, NTT saat ditemui di tempat usahanya, Selasa (19/1/2021). Foto: Ebed de Rosary

John sapaannya mengatakan, sebuah teko berukuran sedang bersama 2 gelas dijual dengan harga Rp150 ribu, sementara untuk teko sendiri yang berukuran sedang dijual Rp100 ribu, dan berukuran besar Rp150 ribu.

Ia menambahkan, untuk gelas dijual dengan harga Rp30 ribu sebuah. Semua kerajinan tangan ini dibuatnya sendiri menggunakan bahan batok atau tempurung kelapa yang banyak terdapat di Kabupaten Ende.

“Saya juga membuat tas dari tempurung kelapa yang dijual seharga Rp75 ribu per buahnya dengan tali berukuran panjang maupun pendek. Peminatnya pun lumayan banyak,” ungkapnya.

John mengatakan, biasanya saat ramai kunjungan wisatawan sebelum pandemi Corona tahun 2019 dalam seminggu dirinya bisa menjual hingga 5 set teko dan tas sebanyak 2 sampai 3 buah.

Namun sejak pandemi Corona melanda sebutnya, dalam sebulan dirinya hanya menjual teko satu atau dua set saja begitu pun juga dengan tas dari tempurung kelapa karena wisatawan menurun drastis.

“Kami sementara hanya memproduksi terbatas karena masih menunggu apakah pandemi Corona akan berakhir. Biasanya yang banyak membeli wisatawan mancanegara,” ungkapnya.

Sementara itu, penjual suvenir lainnya, Suryani mengaku, penjualan suvenir berbahan berbahan tempurung kelapa memang menurun drastis sebab pengunjung ke Danau Kalimutu semuanya wisatawan domestik.

Dia mengakui lebih banyak pengunjung berasal dari Kabupaten Ende dan Sikka yang mengunjungi Taman Nasional Kelimutu. Sudah beberapa kali sehingga tidak banyak yang membeli suvenir.

“Paling hanya membeli gelang dan anting dengan harga murah berkisar antara Rp10 ribu hingga Rp50 ribu saja. Jarang ada yang membeli dalam jumah banyak, apalagi ratusan ribu rupiah,” ucapnya.

Lihat juga...