Pasokan Daging Sapi di Jabar 90 Persen dari Luar Daerah

Ilustrasi -Dok: CDN

BANDUNG – Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, menyatakan 90 persen pasokan daging sapi di wilayah Jabar berasal dari luar daerah, yakni dari Provinsi Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, bahkan hingga luar negeri seperti Australia.

“10 persennya dipenuhi dari pemotongan sapi dari Jawa Barat dari petani lokal. Ada juga dipenuhi dari luar daerah dari Jatim, NTB, Jawa Timur, Bali kemudian dari impor dari Australia yang banyak,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, Jafar Ismail, Kamis (21/1/2021).

Jafar juga menjelaskan tentang kenaikan harga daging sapi di beberapa wilayah yang ada di Jawa Barat, karena kenaikan harga sapi bakalan di Australia sejak tahun lalu.

Menurut dia, kenaikan harga daging sapi ini sudah dibicarakan bersama Direktur Perdagangan Dalam Negeri pada Kementerian dalam negeri, dan pemerintah juga telah berupaya mengatur pasokan dan stabilitas harga daging sapi di pasaran.

“Dan, memang stabilisasi itu dibuat dengan menyediakan ketersediaan pasokan dahulu, dan ini untuk menjaga agar harga tetap stabil di dalam negeri, walaupun dengan harga lebih tinggi dari sebelumnya,” kata Jafar.

Dia mengatakan, dengan ketergantungan yang besar terhadap daging sapi asal Australia dan kondisi peternakan di Australia, pun sangat mempengaruhi harga sapi di Jawa Barat.

Di Negeri Kangguru sendiri, kenaikan harga sapi sudah terjadi pada Juli 2020 sampai berharga 3,6 Dolar Amerika per satu kilogram bobot hidup atau bakalan, lalu pada Januari sudah di angka 3,9 Dolar Amerika per satu kilogram sapi hidup.

“Memang kenaikan harga sejak Juli sampai Januari itu sudah mencapai Rp13.000 per kilogram dari harga sebelumnya. Jadi, kalau ini untuk waktu ke depan, diharapkan tidak ada kenaikan lagi. Ya, kembali lagi ke Rp120 ribu per kilogram,” kata dia. (Ant)

Lihat juga...