Pedagang Kuliner di Lamsel Terdampak Kenaikan Harga Cabai

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah pedagang kuliner di Lampung Selatan ikut terdampak kenaikan harga cabai yang terjadi di sejumlah pasar tradisional.

Nurhayati, pedagang kuliner bakso pentol, otak-otak, rujak tahu, siomay dan kuliner tradisional lainnya di pasar Bakauheni, menyebut kenaikan harga cabai mempengaruhi pembuatan sambal. Ia memilih mengurangi penggunaan cabai untuk sambal yang dibuatnya.

Pembelian cabai merah untuk bahan sambal, menurut Nurhayati dilakukan dua hari sekali. Pada level pedagang eceran, ia menyebut harga per kilogram mencapai Rp75.000 hingga Rp80.000 per kilogram. Kerap membeli sebanyak satu kilogram, ia memilih mengurangi setengah kilogram untuk pembuatan sambal. Selain cabai, ia membutuhkan kacang tanah untuk sambal otak-otak, siomay dan rujak tahu.

Maimunah, pedagang cabai merah besar di pasar Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Sabtu (2/1/2020). -Foto: Henk Widi

Permintaan cabai untuk pembuatan sambal, menurut Nurhayati tidak mempengaruhi penjualan kuliner yang diproduksi. Harga otak-otak dijual Rp2.000 per buah, pentol bakso Rp2.000 per tusuk, siomay Rp2.000 per buah dan rujak tahu Rp5.000 per bungkus. Kuliner tradisional tersebut dijual dengan harga tetap. Meski harga cabai naik, ia tidak menaikkan harga untuk menjaga daya beli pelanggan.

“Harga kuliner tradisional yang kita produksi tidak mahal, agar terjangkau konsumen, meski bahan baku kacang tanah dan cabai untuk pembuatan sambal naik dua kali lipat sejak akhir tahun hingga awal tahun ini, ditambah musim penghujan yang berimbas pasokan berkurang,” terang Nurhayati, saat ditemui Cendana News, Sabtu (2/1/2021).

Nurhayati menyebut, tetap mempergunakan sambal dari cabai yang dihaluskan. Alih-alih memakai saus sambal instan pelengkap menikmati otak-otak, siomay, rujak tahu akan lebih nikmat ketika disajikan dengan sambal segar. Permintaan otak-otak mentah yang belum dibakar, menurutnya meningkat sejak pergantian tahun dan awal tahun. Sebab, otak-otak bisa dibakar untuk acara keluarga.

Idayati, pedagang kuliner pecel dan karedok yang identik dengan sambal pedas, mengaku ikut terpengaruh harga cabai merah. Pedagang kuliner di Bakauheni itu menyebut konsumen kerap meminta pecel dengan level kepedasan yang berbeda. Menggunakan sayuran, sambal berbahan cabai kedua jenis bahan baku tersebut mengalami kenaikan harga.

“Sayuran dan cabai merupakan jenis komoditas yang mengalami hambatan pasokan, terutama saat musim penghujan oleh faktor cuaca,” bebernya.

Cabai yang dibeli, sebut Idayati, merupakan jenis rawit dan caplak. Kedua jenis cabai tersebut dijual rata-rata Rp80.000 per kilogram. Sebagai solusi untuk mengurangi biaya produksi, ia mengurangi pembelian cabai rawit di pasar. Menanam cabai dengan polybag dan di kebun menjadi cara baginya untuk mendapatkan bahan baku sambal. Ia akan membeli cabai di pasar, saat pasokan cabai dari kebun miliknya berkurang.

Maimunah, pedagang cabai di antaranya cabai rawit, caplak, merah dan keriting, menyebut kenaikam harga sudah terjadi sepekan sebelum Natal. Hingga awal tahun baru, sejumlah pedagang mendapatkan pasokan terbatas dari distributor.

Petani yang menanam cabai terkendala oleh cuaca penghujan berimbas pada harga tingkat distributor, naik. Imbasnya pengecer cabai menaikkan harga dua kali lipat dibanding harga normal.

Sebelumnya, cabai merah, keriting, caplak dan rawit dijual maksimal Rp30.000 per kilogram. Namun sejak penghujung 2020 hingga awal 2021, cabai bahan baku penyedap kuliner harga mengalami kenaikan. Maimunah mengaku belum menurunkan harga sebelum pasokan dari petani lancar. Sebab, makin banyak pasokan harga cabai akan cenderung turun.

“Sebagian cabai terpaksa didatangkan dari wilayah Gisting, sebagian dari Jawa untuk wilayah Sumatra,” terangnya.

Maimunah mengaku tetap memberi diskon harga hingga Rp5.000 per kilogram untuk pemilik usaha kuliner. Sejumlah pedagang tahu gejrot, pecel lele, ayam bakar, ayam goreng, soto dan mie ayam bakso. Sebab, pasokan cabai yang belum lancar berimbas harga masih berpotensi tinggi pada level pengecer. Musim hajatan yang mulai diperbolehkan ikut menjadi penyebab kenaikan harga cabai di pasaran.

Lihat juga...