Pedagang Pernak-pernik Imlek Mulai Marak di Bandar Lampung

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah pedagang pernak-pernik Imlek mulai marak di sejumlah pasar di Bandar Lampung. Dua pekan menjelang tahun baru lunar bagi etnis Tionghoa yang dikenal dengan Imlek ini, berbagai kebutuhan juga dijual pedagang, seperti kue keranjang, coklat dan lainnya.

Lie Hua Kim, pedagang kue di kota setempat mengaku menyediakan kue tutun atau kue keranjang, kue coklat dan berbagai jenis kue kering. Menurutnya, kebutuhan kue untuk Imlek menjadi pelengkap merayakan tahun baru yang jatuh pada Jumat 12 Februari 2021, mendatang.

Meski perayaan Imlek pada masa pandemi dibatasi, ia menyebut sebagian warga keturunan Tionghoa melakukan sejumlah persiapan. Pedagang di pasar Kangkung, Teluk Betung itu menyebut warga membeli kebutuhan secara bertahap hingga mendekati waktu perayaan.

Salah satu warga memilih sejumlah kue dan pernak pernik keperluan tahun baru Imlek di pusat perbelanjaan Chandra, Jalan Hayam Wuruk, Tanjung Karang, Bandar Lampung, Rabu (27/1/2021). -Foto: Henk Widi

Lie Hua Kim bilang, normalnya ia menyediakan sekitar satu kuintal kue tutun. Kue tersebut telah dikemas ukuran 150 gram hingga 250 gram yang telah dikemas memakai plastik. Ia menjual kue tutun mulai harga Rp18.000 hingga Rp23.000 per kemasan. Jenis kue kering lain meliputi nastar, kacang goreng, almond, dijual Rp100.000 per kemasan.

“Sejumlah kue kering mulai dijual, namun untuk kue basah kebutuhan Imlek meliputi mi dan olahan ikan kerap akan dijual dua hari menjelang tahun baru. Namun dua kali perayaan tahun baru lunar ini lebih sepi, karena perayaan dilakukan dengan sederhana oleh sejumlah keluarga imbas pandemi Covid-19,” terang Lie Hua Kim, saat ditemui Cendana News, Rabu (27/1/2021).

Selain menjual kue tutun, Lie Hua Kim menyebut jeruk ponkam dan buah naga dan apel kerap diburu warga. Sesuai tradisi, berbagai buah segar tersebut menjadi pelengkap untuk sembahyang kepada leluhur. Namu ia menyebut, permintaan kue tutun alami penurunan imbas pandemi Covid-19. Sebab, sejumlah vihara, tempat ibadah yang digunakan untuk merayakan imlek tidak menggelar acara berimbas kerumunan.

Sementara itu pedagang lainnya, Aliong, menyebut perlengkapan yang paling banyak dicari meliputi hio untuk sembahyang, amplop angpao, lampion, dupa dan minyak wangi. Berbagai peralatan sembahyang dijual mulai harga Rp5.000 hingga ratusan ribu rupiah.

“Penjualan lebih sepi dibanding tahun sebelumnya, terlebih ada aturan operasional tempat usaha dibatasi, jadi konsumen berkurang,” cetusnya.

Cong Sui Ni, warga Teluk Betung, menyebut tahun baru Imlek menjadi perayaan budaya. Setiap warga yang memiliki ikatan darah sebagai keturunan etnis Tionghoa kerap merayakan Imlek. Sebagai ungkapan syukur, ia kerap memberikan hadiah kiriman buah segar kepada kerabat dan kue tutun. Ia juga menyediakan juga kue tutun bagi warga yang akan berkunjung ke rumah, sekaligus memberi angpao.

“Tahun ini tidak ada open house, sebagai gantinya angpao, kue tutun dikirim via aplikasi pengiriman barang ke kerabat,” bebernya.

Mendekati Imlek, sejumlah pedagang bunga juga mulai mencoba peruntungan. Maisaroh, pedagang bunga segar jenis krisan, mawar dan sedap malam telah berjualan di depan Vihara Thay Hin Bio di Jalan Ikan Kakap. Berbagai jenis bunga kerap dibeli umat Budha yang akan bersembayang. Kebutuhan untuk berdoa bagi leluhur, dewa bagi keyakinan umat Budha menggunakan bunga mendorong peningkatan permintaan.

Bunga krisan, mawar dan sedap malam, menurutnya dijual mulai harga Rp30.000 hingga Rp50.000 per tangkai. Sejumlah bunga tersebut selain digunakan untuk berdoa, kerap dijadikan penghias ruangan. Usaha berjualan bunga tersebut, memberinya penghasilan mendekati Imlek. Meski tidak seramai tahun sebelumnya, ia masih bisa mendapat keuntungan ratusan ribu rupiah per hari.

Lihat juga...