Pelaku Perjalanan Enggan Miliki ‘Electronic Health Alert Card’

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Sejumlah pelaku perjalanan luar kota melalui pelabuhan penyeberangan Bakauheni enggan memiliki kartu kewaspadaan elektronik.

Sobirin, pelaku perjalanan asal Lampung Timur yang akan bekerja di Banten menyebut ia tidak memiliki aplikasi Electronic Health Alert Card (eHAC) karena tidak diwajibkan. Ia bahkan menyebut hanya menerapkan protokol kesehatan minimal.

Sobirin, pelaku perjalanan asal Lampung tujuan Banten tidak membawa surat rapid test dan aplikasi kartu kewaspadaan kesehatan, Jumat (22/1/2021) – Foto: Henk Widi

Semenjak masa new normal Sobirin mengaku, telah melakukan perjalanan empat kali. Saat libur panjang Idulftri, Natal, tahun baru dan pekan kedua Januari 2021. Ia tetap membuat surat rapid test PCR bebas Covid-19 yang diwajibkan perusahaan tempatnya bekerja saat pulang kampung. Surat hasil pemeriksaan RT-PCR negatif berlaku paling lama 14 hari sejak dibuat.

Informasi terkait penyeberangan menggunanakan kapal menurut Sobirin tidak mewajibkan rapid test. Berbekal informasi tersebut syarat wajib bagi pelaku perjalanan hanya memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, menjaga jarak dan membawa penyanitasi tangan (hand sanitizer). Meski demikian sesampainya di pelabuhan petugas kesehatan ternyata mewajibkan ia memiliki eHAC.

“Sempat dengar tentang aplikasi tersebut sehingga tadi langsung mengunduhnya untuk pelaku perjalanan seperti kami yang bolak balik pulau Jawa ke Sumatera hampir setiap pekan. Memang sangat penting untuk memantau kondisi kesehatan,” terang Sobirin saat ditemui Cendana News ,Jumat (22/1/2021).

Sobirin menambahkan dalam perjalanan menyeberang memakai kapal, fasilitas untuk menjaga kesehatan telah disiapkan. Pada pintu masuk pelabuhan Bakauheni tempat cuci tangan, cairan penyanitasi tangan disediakan. Saat akan masuk kapal petugas melakukan pemindaian subu tubuh memakai alat thermo gun. Pengaturan jarak tempat duduk juga dilakukan oleh operator kapal.

Berbeda dengan Sobirin, pelaku perjalanan bernama Herwintarti mengaku, tidak mengenal aplikasi Kartu Kewaspadaan Kesehatan. Wanita asal Kalianda tujuan Serang itu mengaku tidak memiliki smartphone untuk mengunduh aplikasi kartu kewaspadaan kesehatan itu. Pembelian tiket yang dilakukan secara elektronik dilakukan oleh sang anak yang ikut bersamanya.

“Kami juga tidak lagi wajib menunjukkan hasil rapid test yang penting menerapkan protokol kesehatan,” bebernya.

Saat akan menyeberang pada Desember 2020 silam Herwintarti bilang sempat ikut screening rapid test. Hasil screening rapid test dengan mengambil sampel darah dinyatakan negatif Covid-19. Kewaspadaan mandiri untuk menjaga kesehatan sebutnya tetap dilakukan dengan memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak. Jika membawa serta anak-anak ia juga melengkapi pelindung wajah (face shield).

Suwoyo, Koordinator Kantor Kesehatan Kelas II Panjang, wilayah kerja Bakauheni menyebut, telah melakukan sosialisasi e-HAC. Dokumen kartu kewaspadaan kesehatan sebutnya sangat penting untuk mengetahui riwayat kesehatan dan perjalanan seseorang.

Suwoyo, Koordinator Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Panjang Wilayah Kerja Bakauheni, dijumpai Jumat (22/1/2021) – Foto: Henk Widi

Hal tersebut tercantum dalam Surat Edaran (SE) Nomor HK.02.01/MENKES/382/2020 tentang Protokol Pengawasan Pelaku Perjalanan Dalam Negeri yang diterbitkan Kementerian Kesehatan.

Sebelum bepergian ke luar kota, Suwoyo bilang pelaku perjalanan wajib mengunduh aplikasi e-HAC. Meski proses vaksinasi Covid-19 telah dilakukan pada sejumlah wilayah namun aplikasi tersebut cukup bermanfaat. Riwayat pelaku perjalanan, kesehatan, tempat asal dan tujuan akan terpantau sekaligus sejumlah informasi kesehatan.

“Sosialisasi telah dilakukan sekaligus petunjuk pengisian aplikasi namun masih sedikit orang yang mengunduhnya, kami selalu sarankan untuk memanfaatkan aplikasi kartu kewaspadaan kesehatan itu,” beber Suwoyo.

Kesadaran pelaku perjalanan menjaga kesehatan sebut Suwoyo telah meningkat. Sebab protokol kesehatan telah dilakukan dengan memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan.

Pelaku perjalanan yang diwajibkan untuk membawa surat rapid test bebas Covid-19 juga telah membawanya. KKP juga sebutnya, telah melakukan screening secara acak bagi pelaku perjalanan untuk rapid test meski secara sukarela.

Lihat juga...