Pelaku Usaha di Bandar Lampung Batasi Jam Operasional

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Sejumlah pelaku usaha di kota Bandar Lampung mulai melakukan pembatasan jam operasional. Aisah, pemilik usaha penjualan parfum di pusat perbelanjaan Simpur Center mengaku, saat ini memilih tutup lebih awal.

Sejumlah pedagang, pada kondisi normal biasa menutup usaha pukul 21.00 WIB malam. Namun, di masa pandemi COVID-19, pedagang memilih mengikuti imbauan pemerintah. Pusat perbelanjaan di Jalan Jenderal Suprapto tersebut, hanya buka hingga pukul 19.00 WIB. Sesuai surat edaran Wali Kota Bandar Lampung, No440/133/IV.06/2021, tentang Pembatasan Jam Operasional Kegiatan Usaha.

Meski pemberlakukan aturan tersebut diterapkan pada 28 Januari 2021, namun pelaku usaha memilih mulai menutup tempat usaha lebih awal. Gerai penjualan parfum, pakaian di lantai satu tutup lebih awal, untuk membereskan tempat berjualan. Di lantai dasar yang didominasi penjualan telepon seluler, barang elektronik juga mulai tutup.

Sejumlah karyawan toko pakaian menutup gerai mengikuti anjuran pemerintah terkait jam operasional kegiatan usaha salah satunya di Simpur Center,Tanjung Karang,Bandar Lampung,Selasa (26/1/2021) malam – Foto Henk Widi

Setiap hari, Asiah membuka usaha pukul 8.30 WIB, dan akan tutup sekira pukul 21.00 WIB. Namun aturan baru mendorongnya untuk memilih tutup dua jam lebih cepat. “Pengaruh bagi usaha, tentunya omzet menurun, karena warga yang berbelanja juga mulai dibatasi, sesuai kapasitas tempat perbelanjaan ditambah dengan adanya pembatasan jam operasional kegiatan usaha semakin menurunkan penghasilan, tapi demi kesehatan tidak masalah,” terang Aisah, saat ditemui Cendana News, Selasa (26/1/2021) malam.

Aisah menyebut, dalam sehari ia bisa menjual lebih dari satu liter parfum, pada kondisi normal. Setiap satu mili-liter parfum, dijual olehnya seharga Rp1.000. Imbas dari penurunan, kini omzetnya turun hanya mencapai ratusan ribu.  Pemilik usaha penjualan parfum dan jam tangan, Zainudin menyebut, waktu operasional telah dipatuhi pedagang. Sebagian pedagang memilih menutup tempat usaha tiga jam sebelum waktu tutup.

Sejumlah pelaku usaha menurutnya tunduk dan patuh pada Peraturan Daerah Provinsi Lampung Nomor 3 Tahun 2020, tentang Adaptasi Kebiasaan Baru dan Pengendalian COVID-19. “Hampir setahun kami mengalami masa suram, sempat tidak berjualan satu bulan, lalu ada masa adaptasi kebiasaan baru berimbas hasil penjualan anjlok,” bebernya.

Zainudin menyebut, dampak langsung dari pembatasan aktiviytas bagi pelaku usaha seperti dirinya sangat terasa. Meski pendapatan menurun, namun ia tetap harus membayar uang sewa lapak. Sejumlah pelaku usaha di kawasan Taman Gajah, Enggal yang didominasi usaha kuliner, memilih tetap operasi. Kawasan taman yang menjadi tempat usaha pedagang kuliner terlihat masih ramai hingga malam.

Pelaku usaha sebagian memilih akan tetap buka maksimal hingga pukul 22.00 WIB. Sebab sebagian baru buka sejak pukul 17.00 WIB. Normalnya hingga pukul 01.00 WIB. Pengurangan jam operasional ikut mempengaruhi omzet penjualan pelaku usaha.

Lihat juga...