Penanggulangan COVID-19 di Sikka Tidak Berjalan Optimal

Editor: Mahadeva

MAUMERE – Forum Peduli Penanggulangan Bencana (FPPB) Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) menilai, langkah penanggulangan COVID-19 di daerah tersebut tidak berjalan optimal.

FPPB Kabupaten Sikka menilai, ketidakpedulian masyarakat terhadap protokol kesehatan seperti aktivitas berkumpul, adalah imbas dari perilaku pemerintah dalam menangani pandemi yang tidak sejalan dengan aturan yang ditetapkan sendiri oleh pemerintah.

FPPB Kabupaten Sikka meminta kepada pemerintah daerah, untuk menghentikan semua aktivitas pemerintah yang mengumpulkan masyarakat,” tegas Ketua Forum Peduli Penanggulangan Bencana (FPPB) Kabupaten Sikka, NTT, Carolus Winfridus Keupung, Cendana News, Sabtu (16/1/2021).

Ketua Forum Peduli Penanggulangan Bencana (FPPB) Kabupaten Sikka, NTT, Carolus Winfridus Keupung saat ditemui di kantor Wahana Tani Mandiri (WTM) di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT – Foto : Ebed de Rosary

Pemerintah disebut Win, harus memberi contoh yang baik dalam hal pemutusan mata rantai penyebaran COVID-19 kepada masyarakat. Selain itu, pemerintah diminta melakukan penegakan protokol kesehatan dan kebijakan penanggulangan COVID-19 tanpa ada pertimbangan aspek apapun. Pemerintah juga diminta memastikan, setiap tempat usaha ekonomi menerapkan protokol keseghatan. “Pemerintah harus melarang aktivitas pesta dalam bentuk apapun. Juga melarang aktivitas keagamaan yang mengumpulkan banyak orang, serta aktivitas pendidikan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka dari jenjang PAUD sampai Perguruan Tinggi,” sarannya.

FPPB melihat, surat edaran Bupati Sikka berisi imbauan, tetapi upaya pencegahan yang maksimal sepertinya tidak ada. Dan seakan tim Satgas COVID-19 hanya ada tim kesehatan dan penegakan hukum. Untuk itu FPPB mengusulkan, kerja tim penanggulangan COVID-19 harus lebih nyata. Semua unsur dalam tim tersebut harus diaktifkan agar penanggulangannya menjangkau seluruh Kabupaten Sikka. Sangat diperlukan mengaktifkan Satgas Covid-19 di desa dan kelurahan dan mengaktifkan peran linmas dan RT atau RW,” tegasnya.

Satgas juga harus membangun sistem informasi yang lebih terpusat, agar tidak terjadi kesimpangsiuran dalam pemberitaan publik.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten Sikka, dr.Clara Y. Francis menyebut, di minggu kedua Januari 2021, total pemeriksaan dengan rapid antigen mencapai 263 orang, dengan kasus positif 33 orang. Warga yang positif rapid antigen, dilakukan pengambilan sampel swab untuk dilakukan pemeriksaan dengan metode PCR di laboratorium RSUD Prof.W.Z.Johannes Kupang. “Sebanyak 263 orang itu sebagian besar merupakan hasil kontak erat dengan pasien yang positif melalui pemeriksaan rapid antigen maupun PCR. Jumlah warga yang positif rapid antigen ini belum termasuk yang diperiksa di laboratorium swasta dan rumah sakit lainnya,” ungkapnya.

Clara meminta masyarakat patuh dan menjalankan protokol kesehatan secara benar dan konsisten, agar bisa memutus mata rantai penyebaran Covid-19 mengingat kasus transmisi lokal kian meningkat.

Lihat juga...