Pendekatan ‘Open Ended’ Bantu Pengembangan Penalaran Siswa

Editor: Koko Triarko

Dosen PGSD UPGRIS, Joko Sulianto, M.Pd., menunjukkan buku karyanya dengan pendekatan open ended, usai ujian promosi doktor Prodi Doktor Ilmu Pendidikan UNS, yang digelar secara daring di Semarang, Jumat (15/1/2021). –Ist.

SEMARANG – Guru harus mampu mengembangkan kemampuan penalaran siswa, termasuk dengan merancang pertanyaan agar dapat membantu siswa untuk berpikir, hingga menciptakan kondisi yang kondusif di kelas, sehingga peserta didik dapat mengekspresikan diri tanpa ragu-ragu.

“Peran guru mempertanyakan sangat penting. Sebagai guru mengajukan pertanyaan, dan peserta didik menjelaskan ide/gagasan. Dengan mengajukan pertanyaan, guru mendapatkan gambaran kemampuan peserta didik tentang materi yang diajarkan,” papar dosen program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Joko Sulianto M.Pd., dalam ujian promosi doktor Prodi Doktor Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, yang digelar secara daring di Semarang, Jumat (15/1/2021).

Lebih jauh dijelaskan, mempertanyakan juga dapat dianggap sebagai alat penilaian untuk mengukur kemampuan peserta didik. “Ketika peserta didik menjelaskan ide, guru dengan mudah mengevaluasi dan memberi penilaian terhadap siswa. Penalaran mengacu pada proses mental yang tercakup dalam pembuatan dan pengevaluasian argumen,” tambahnya.

Dalam disertasi penelitian berjudul ‘Pengembangan Model Pembelajaran Advance Organizer Berbasis Pendekatan Open Ended untuk Meningkatkan Penalaran Siswa pada Pelajaran Matematika di SD’ tersebut, Joko menilai untuk membantu siswa mengidentifikasi dan menjelaskan masalah, guru bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

“Misalnya, kamu diminta melakukan apa? Benda apa yang kamu punya? Bentuk-bentuk apa yang kamu kenal? Jika warna bendanya berbeda, apakah berpengaruh untukmu? Tiap kali guru bekerja sama dengan siswa untuk memecahkan masalah, guru bisa membantu memunculkan pertanyaan untuk menentukan Informasi apa yang penting untuk memecahkan masalah,” tambahnya.

Ditandaskan, penalaran matematika (mathematical reasoning) diperlukan, untuk menentukan apakah sebuah argumen matematika benar atau salah dan dipakai untuk membangun suatu argumen matematika.

“Penalaran siswa dapat ditingkatkan dengan melaksanakan pembelajaran bermakna dengan model advance organizer, yakni suatu model pembelajaran yang disusun untuk memberikan arah dalam menyusun suatu materi pembelajaran. Siswa dibantu oleh guru untuk memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai dan cara berpikir,” terangnya.

Dari hasil penelitian yang dilakukan, sebaiknya perlu dikembangkan lagi model pembelajaran yang dapat meningkatkan penalaran siswa pada pembelajaran matematika di sekolah dasar. Termasuk memfasilitasi buku pembelajaran yang didesain dengan pendekatan open ended pendekatan, yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan pola pikirnya sesuai minat dan kemampuan masing-masing, dalam upaya meningkatkan penalaran siswa,” tegasnya.

Di bawah bimbingan Prof. Dr. Sunardi, M.Sc., (Promotor) Prof. Dr. Sri Anitah, M.Pd., (Kopromotor I) dan Prof. Drs. Gunarhadi., MA., Ph.D. (Kopromotor II), disertasi yang dilakukan Joko dinyatakan lulus. Capaian tersebut menempatkannya sebagai doktor ke 74 lulusan program studi S3 FKIP Ilmu Pendidikan UNS, sekaligus doktor ke-86 UPGRIS.

Sementara, Rektor UPGRIS, Dr. Muhdi, SH., M.Hum, mengapresiasi capaian dosen yang ada di lingkungan perguruan tinggi yang dipimpinnya.

“Di tengah pandemi Covid-19, tidak menyurutkan langkah para dosen kita untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas mereka. Termasuk menyelesaikan pendidikan doktor. Semoga dengan berhasilnya Joko Sulianto meraih capaian ini, juga berimbas pada peningkatan mutu pembelajaran di kampus UPGRIS, khususnya di PGSD,” tandasnya.

Lihat juga...