Pengelolaan Tata Ruang Antisipatif Bencana Cegah Terjadinya Gerakan Tanah

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Kondisi geologi Indonesia yang berbukit, berpotensi menyebabkan adanya gerakan tanah. Jika curah hujan tinggi akan meningkat risiko terjadinya. Untuk itu, diperlukan pemantauan, bukan hanya pada tingkat curah hujan saja tapi juga pada tata kelola ruang yang antisipatif bencana.

Kepala Bidang Mitigasi Gerakan Tanah Badan Geologi PVMBG Ir. Agus Budianto menyatakan curah hujan yang tinggi dipadu dengan aktivitas manusia berpotensi menimbulkan gerakan tanah dan banjir bandang.

“Gerakan tanah itu dapat terjadi karena dipicu oleh hujan, aktivitas manusia dan gempa bumi. Dimana saat terjadi peningkatan curah hujan maka akan mempengaruhi litologi, morfologi dan keairan yang akan mengakibatkan pelunakan, bobot massa, tekanan air pori, bidang gelincir dan erosi,” kata Agus dalam diskusi online La Nina, Rabu (6/1/2021).

Gerakan tanah sendiri, lanjutnya, dipahami sebagai perpindahan bahan tanah, batuan atau bahan timbunan yang bergerak ke bawah dan keluar lereng.

“Mayoritas dari kasus terjadi di Jawa, sisi selatan Sumatera dan beberapa titik di Sulawesi. Polanya berulang dan kejadiannya naik turun setiap tahun,” ucapnya.

Pada 2017, tercatat ada 1.177 kasus dengan 210 korban jiwa. Meningkat menjadi 1.358 kasus pada tahun 2018 dan sempat menurun signifikan pada tahun 2019, 868 kasus. Kembali meningkat pada 2020, yaitu 2.058 kasus dengan 304 korban jiwa.

“Terlihat dari data itu, peningkatan curah hujan sangat mempengaruhi gerakan tanah ini, jika tidak dilakukan tindakan yang tepat,” ujarnya.

Atas dasar hal tersebut, Direktur Perencanaan dan Evaluasi DAS, DR. M. Saparis Sudaryanto menekankan pentingnya menjaga hutan dan menghutankan kembali.

“Dengan menjaga hutan maka akan meningkatkan retensi air dan mengendalikan daya rusak air. Dalam hal ini adalah curah hujan tinggi,” kata Saparis.

Ia menjelaskan, saat air hujan jatuh ke tanah yang ditumbuhi pepohonan maka aliran permukaan akan dapat ditekan. Sebagian besar air akan meresap ke dalam tanah. Sedimentasi pada channel (red : lokasi rendah tempat air berkumpul) tidak akan terlalu banyak, karena apa yang dibawa air dari wilayah lebih tinggi akan tertahan oleh akar-akar pohon di wilayah yang lebih rendah.

“Sehingga, pada musim hujan banjir akan dapat ditekan dan pada musim kemarau tidak akan terjadi kekeringan. Gerakan tanah bisa dicegah atau diturunkan risikonya,” ungkapnya.

Selain itu, analisis tata guna lahan dan konfigurasi landscape akan menjadi cara mencegah gerakan tanah.

“Kita lakukan analisis skala tapak, analisis penanganan dan analisis peningkatan kapasitas. Untuk diwujudkan dalam suatu kebijakan tata ruang yang antisipatif pada wilayah-wilayah yang memang rentan pada gerakan tanah. Sehingga, menurunkan tingkat risiko,” pungkasnya.

Lihat juga...