Pengembangan Energi Ramah Lingkungan Berbasis Sawit Butuh Dana Rp32 T

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Sebagai salah satu negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan energi terbarukan yang ramah lingkungan berbasis sawit. Pemerintah melalui Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menargetkan, di 2025 pengembangan itu bisa terealisasi.

“Kapasitas produksi sawit kita sekitar 40 juta ton per tahun. Dengan potensi tersebut pemerintah menargetkan terwujudnya pembangunan energi terbarukan yang akan dicapai pada 2025,” ujar Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa dalam siaran pers yang diterima Cendana News, Rabu (20/1/2021).

Menurut Suharso, pembangunan energi terbarukan berbasis kelapa sawit diperkirakan akan memakan biaya sebesar Rp32 triliun. Bappenas telah menargetkan, Rp1,1 triliun bersumber dari APBN, Rp11,9 triliun dari BUMN, dan swasta sebesar Rp19 triliun.

“Sementara itu pembangunan ini akan ditangani oleh 3 Kementerian, yaitu ESDM, Pertanian, Dalam Negri, BUMN dan swasta,” tandasnya.

Lebih lanjut, Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam, Arifin Rudiyanto menambahkan, bahwa implementasi pembangunan energi terbarukan berbasis kelapa sawit akan dilaksanakan secara bertahap.

“Pada tahun 2020 pemerintah telah melakukan penyusunan basic engineering design project (BEDP) dan tender Dual Feed Competition (DFC). 2021 ini pemerintah menargetkan penyusunan dokumen FEED dan persetujuan FID (Final Investment Decicion). Sementara itu tahun 2022 dan 2023 pemerintah menargetkan untuk membangun engineering procurement Construction (EPC),” jelas Arifin.

Adapun untuk mengatasi masalah produktivitas dan efisiensi kelapa sawit yang akan menunjang pembangunan energi terbarukan, pemerintah telah menetapkan langkah strategis yaitu akselerasi peremajaan sawit rakyat.

Langkah tersebut, kata Arifin akan direalisasikan dengan lima program; Melakukan penataan sawit rakyat seluas 2,4 ha; Akselerasi replanting sawit rakyat dengan sumber pembiayaan campuran (APBN, BPDPKS dan dunia usaha); Penerapan good agricultural practices (GAP) untuk peningkatan produktivitas sawit rakyat dan sertifikat ISPO; Integrasi kebun sawit rakyat dengan pengolahan hasil produksi skala kecil; dan Akselerasi keterkaitan antara basis produksi sawit rakyat dengan distribusi hasil.

“Semoga pembangunan energi terbarukan berbasis kelapa sawit dapat mewujudkan kemakmuran masyarakat dan mengurangi ketergantungan kita terhadap energi fosil. Karena penggunaan energi terbarukan dapat mengurangi polusi udara dan berbagai pencemaran yang berbahaya bagi manusia,” pungkas Arifin.

Lihat juga...