Penjual Kain Tenun di Kelimutu Sepi Pembeli

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

ENDE — Dampak pandemi Corona membuat berbagai usaha mati suri terlebih lagi para pedagang kaki lima dan penjual yang menempati berbagai kios di tempat wisata.

Seorang pedagang kain tenun di tempat wisata Kawasan Danau Kelimutu, Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, NTT saat ditemui, Kamis (14/1/2021). Foto : Ebed de Rosary

Hal ini pun dirasakan pedagang kain tenun dan aksesorisnya yang ditemui berjualan di kios yang berada di pelataran parkir Danau Kelimutu, Kawasan Taman Nasional Kelimutu di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, NTT.

“Sudah banyak yang tidak berjualan kain tenun lagi sebab hanya mengandalkan kunjungan wisatawan asing,” kata Yohanes Robinson Saleh, seorang penjual kain tenun dan aksesorisnya di kawasan wisata Taman Nasional Kelimutu, saat dihubungi Cendana News, Selasa (19/1/2021).

Yohanes mengaku, dirinya pun yang biasa menggelar dagangan kain tenun di pinggir jalan raya menuju Danau Kelimutu pun terpaksa hanya meletakkan kain tenun saja tanpa ditunggui.

Menurutnya, dalam sebulan hampir tidak ada satu pun wisatawan dari Kabupaten Ende dan Sikka membeli kain tenun yang dijualnya.

“Kalau mengandalkan wisatawan lokal tentu sulit kecuali mereka yang benar-benar membutuhkannya. Itu pun kain tenun yang harganya Rp400 ribu saja yang dibeli, sementara wisatawan dari luar NTT kadang sebulan hanya beli satu dua lembar kain tenun saja,” ucapnya.

Yohanes mengaku menjual kain tenun pewarna kimia seharga Rp400 ribu hingga Rp500 ribu per lembarnya, sementara pewarna alam dijual seharga Rp2 juta karena proses pewarnaannya lama.

Ia pun membuat sandal yang dilapisi kain tenun yang dijual seharga Rp 85 ribu serta syal minimal seharga Rp65 ribu sementara anting dan gelang berkisar antara Rp15 ribu sampai Rp75 ribu.

“Saya pun memotong syal untuk dijadikan ikat kepala yang dijual seharga Rp15 ribu hingga Rp25 ribu. Banyak yang membelinya sebab harga jualnya murah,” tuturnya.

Sementara itu Kornelis seorang penjual kain tenun di kawasan Danau Kelimutu mengaku sudah setahun dagangannya tampak sepi, sehingga hanya berjualan saat hari libur dan hari Sabtu atau Minggu saja.

Kornelis menyebutkan dirinya lebih banyak berada di kebun menanam padi dan jagung apalagi saat musim hujan mengingat kunjungan wisatawan ke Danau Kelimutu dalam sehari hanya puluhan orang saja.

“Situasi pandemi Corona membuat kita pun terpaksa mencari pendapatan tambahan di luar berdagang kain tenun dan menjual minuman di sekitar Danau Kelimutu,” ungkapnya.

Kornelis mengaku dalam sehari saat kunjungan wisatawan ramai sebelum pandemi Corona, dirinya bisa meraup pedapatan minimal Rp500 ribu dari berjualan makanan dan minuman seperti kopi dan teh.

“Sejak pandemi Corona merebak di tahun 2020 lalu paling sehari hanya Rp50 ribu saja dan saat hari libur dan hari sabtu atau minggu bisa mendapat pemasukan Rp200 ribu kalau beruntung,” ungkapnya.

Lihat juga...